Perbatasan Ditutup, Mesir Tembakkan Rudal ke Israel

Bagikan Artikel Ini

Jurnalsulawesi.com – Sebuah roket yang ditembakkan dari Semenanjung Sinai, jatuh di wilayah Eshkol, yang merupakan perbatasan Israel. Roket tersebut ditembakkan hanya beberapa jam setelah Israel menutup perbatasan kedua negara.

“Sebuah proyektil diluncurkan dari Semenanjung Sinai dan jatuh di wilayah regional Eshkol,” demikian pernyataan resmi militer Israel, dilaporkan AFP.

Baca Juga

“Tidak ada korban jiwa dari insiden tersebut.”

Sebelumnya, Israel mengambil langkah yang tidak biasa dan menutup perbatasan utama menuju Mesir. Langkah yang menunjukkan adanya peningkatan ancaman.

Warga Israel yang tengah berlibur di Sinai, diijinkan kembali namun tidak melalui perbatasan Taba. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan perbatasan tersebut akan ditutup selama sepekan.

Israel mengumumkan adanya larangan bepergian ke Sinai pada Minggu (9/4), menyusul serangan bom beruntun di dua gereja Kristen Koptik, yang menewaskan 44 orang.

Sebelumnya, pada Februari, roket ditembakkan beruntun dari beberapa wilayah Sinai ke arah Israel. Insiden yang kemudian diklaim sebagai tanggung jawab ISIS.

Itu merupakan serangan roket pertama Mesir ke Israel sejak 2015.

ISIS kerap menyerang pasukan keamanan Mesir di Sinai, tetapi jarang melakukan serangan terhadap Israel.

Mesir Darurat Negara
Sementara Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, mengajukan penerapan status darurat negara selama tiga bulan setelah bom meledak di dua Gereja Koptik pada Minggu (9/4/2017) dan menewaskan setidaknya 44 orang.

“Serangkaian langkah akan diambil, terutama pengumuman status darurat negara untuk tiga bulan setelah langkah legal dan konstitusi diambil,” ujar Sisi sebagaimana dikutip Reuters.

Dalam konstitusi Mesir, status darurat negara harus melalui persetujuan Dewan Perwakilan. Diberitakan AFP, proses persetujuan harus dilakukan dalam waktu tujuh hari.

Hukum gawat darurat ini memberikan kuasa lebih kepada polisi untuk melakukan penangkapan, pengawasan, penggerebekan, dan pembatasan ruang gerak.

Sisi mengumumkan rencana ini tak lama setelah ISIS mengklaim dua serangan yang terjadi di Gereja St George di Kota Tanta dan Katedral St Mark’s di Alexandria tersebut.

Kementerian Kesehatan Mesir melaporkan, jumlah korban tewas di St George mencapai 27 orang dan 78 lainnya terluka, sementara di St Mark’s setidaknya 17 nyawa melayang dan 48 warga luka-luka.

Berdasarkan data Kemlu RI, terdapat sekitar 5.711 warga negara Indonesia di Mesir yang sebagian besar adalah mahasiswa. Namun, Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir mencatat tidak ada WNI yang menjadi korban dalam rangkaian insiden ini.

Namun, pihak KBRI melalui Duta Besar Helmy Fauzi meminta semua WNI untuk selalu waspada. Pihak KBRI Mesir juga meminta agar WNI menghindari tempat keramaian yang merupakan titik rawan ancaman terorisme.

“Sejauh ini diperoleh informasi tak ada WNI yang jadi korban pada peristiwa itu. Melalui saluran informal dan kekeluargaan masyarakat Indonesia di Mesir, KBRI Cairo mengimbau agar WNI meningkatkan kewaspadaan,” kata Helmy dalam siaran pers yang dilansir CNNIndonesia.com.[***]

Source; CNNIndonesia.com

Pos terkait

Google News