Perumahan Nelayan Senilai Rp4,8 Miliar di Morut Rawan Ambruk

  • Whatsapp
Pondasi bangunan hanya menempel di atas tanah tanpa dilakukan galian/koporan saat membuat pondasi. [Ramlan Rizal]
Bagikan Artikel Ini

Morowali Utara, Jurnalsulawesi.com – Proyek pembangunan perumahan khusus nelayan kembali menuai sorotan. Kali ini, perumahan yang diperuntukkan bagi nelayan miskin di Desa Ueruru, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Desa Ueruru, Anwar, mengatakan perumahan khusus yang dikerjakan PT Mazmur Arfak Jaya dengan nilai kontrak Rp4.884.419.000,- itu rawan ambruk. Padahal proyek tersebut baru dikerjakan pada 2018 lalu.

Baca Juga

Dia menyebutkan, penyebab rawan ambruknya rumah khusus tersebut karena kondisi pondasi bangunan yang sudah menggantung dan tidak memiliki penahan semisal batu dan pasir.

Sangat terlihat dengan jelas, pondasi bangunan hanya menempel di atas tanah tanpa dilakukan galian/koporan saat membuat pondasi. Bahkan pondasi juga tidak menggunakan batu selayaknya, melainkan hanya menggunakan batu bata.

Sisi lain pondasi bangunan yang juga sudah menggantung. [Ramlan Rizal]
“Coba diperhatikan dari bagian pondasi separuhnya ada yang sudah hancur karena penahan pondasi bangunan hanya batu bata saja, tidak menggunakan batu kosong,” sesal Kades Ueruru.

Bahkan hingga saat ini, rumah nelayan yang dikerjakan oleh perusahaan asal Palu tersebut hingga kini belum diserahkan kepada masyarakat yang berhak, terutama nelayan yang masuk kategori warga miskin.

“Bangunan rumah khusus untuk nelayan sebanyak 50 unit tersebut sekarang rawan ambruk,” tekan Kepala Desa Ueruru, Anwar (8/6/2019).

Kades menyebutkan, bukan hanya pondasi bangunan, intalasi pipa untuk air bersih tak satupun yang berfungsi demikian halnya lampu penerangan yang rata-rata masih minim.

“Masih 100 balon yang belum terpasang di bangunan rumah tersebut, begitupun pipa untuk air bersih ada yang sudah patah, termasuk kaca jendela ada yang pecah,” terangnya.

Anwar menjelaskan, hingga sekarang 50 unit rumah yang dibangun pihak Kementrian PUPR melalui Provinsi Sulteng itu belum diserahkan kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Ueruru, untuk diberikan kepada masyarakat yang layak menerima bantuan perumahan.

“Kalau diserahkan nanti, selaku Kepala Desa, saya akan menolak, karena bangunan rumah tersebut tidak layak untuk ditempati,” tandasnya.

Jika bangunan itu diserahterimakan secara terpaksa kepada Pemdes, dapat dipastikan warga akan menolak karena mereka merasa khawatir disebabkan satu persatu pondasi rumah yang telah menggantung dan rawan ambruk.

Ia berharap, warganya bisa merasa nyaman saat menempati bangunan tersebut, pihak rekanan diminta kembali melakukan perbaikan untuk mengantisipasi kerugian negara.

“Kalau bangunan itu tidak dilakukan perbaikan bisa dipastikan bangunan tersebut akan menjadi sia-sia,” katanya.

Sementara itu, pihak kontraktor PT Mazmur Arfak Jaya yang dikonfirmasi terkait masalah tersebut belum bisa dimintai keterangan. Beberapa kali wartawan mencoba menghubungi melalui telepon, namun tidak memberikan jawaban, meski terdengar panggilan tersambung. [***]

Kondisi pondasi bangunan hampir semuanya sudah menggantung dan hanya menempel di atas permukaan tanah. [Ramlan Rizal]

Penulis; Ramlan Rizal
Editor; Agus Manggona
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News