PETI Dongi-Dongi, Aktivitas Pencurian yang “Diizinkan”

  • Whatsapp
Lubang "tikus" dan material yang terlihat baru saja ditinggalkan di lokasi PETI Dongi-Dongi, Sabtu (4/7/2020). [Trisno]
Bagikan Artikel Ini
  • 108
    Shares

Palu, JurnalNews.id – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Dusun Dongi-Dongi Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso hingga saat ini masih terus berlangsung. Tambang tersebut sempat ditutup pada 2016 silam, namun sejak 2017, aktivitas penambangan terus berlangsung hingga saat ini.

Ironisnya, aktivitas penambangan justeru berlangsung di tengah adanya penjagaan aparat kepolisian dan Polisi Kehutanan (Polhut). Pos pengawasan dan penjagaan jaraknya hanya sekira sepelemparan batu dari lubang-lubang “tikus” tempat pengambilan material yang disebut Ref berisi kandungan emas.

Baca Juga

Hal itu terlihat saat JurnalNews.id mendatangi lokasi tambang bersama tim dari LBH Sulteng, Sabtu (4/7/2020).

Saat tiba di lokasi sekira Pukul 14.00 Wita, terlihat beberapa lubang yang terlihat baru beberapa saat sebelumnya ditutup sementara. Timbunan dan bekas jejak kaki juga terlihat baru saja pelaku meninggalkan lokasi.

Advertisements

“Hati-hati, itu ada lubang yang ditutup. Kalau itu terinjak, bisa terperosok dan dalamnya puluhan meter,” ujar Lispin Ketua FPM yang turut mendampingi ke lokasi tambang.

Terdapat pula lubang yang tak ditutup dan material dalam karung yang tertinggal di tepi lubang dan nampaknya pelaku baru saja meningalkan lokasi tersebut.

Bahkan, masih sempat tepergok ada seorang yang diduga pelaku tambang yang membawa tas punggung (ransel), berlari ke arah hutan.

“Itu-itu….ada satu orang yang lari mau sembunyi” kata Lispin sembari menunjukkan ke wartawan.

Selain banyaknya lubang yang hanya dibuka-tutup, terlihat dengan mata telanjang ada kabel listrik membentang di atas tanah dari arah kebun kakao warga ke lubang tambang.

“Yaa ini kabel apalagi kalau bukan untuk penerangan di dalam lubang,” ujarnya.

Advertisements
Advertisements
Kabel listrik yang membentang dari arah kebun kakao menuju lubang “tikus” untuk penerangan pengambilan material Ref, Sabtu (4/7/2020). [Trisno]

Direktur LBH Sulteng Julianer menemukan dua selongsong peluru yang masih segar di lokasi tambang. Patut diduga, selongsong peluru tersebut baru saja diletuskan untuk mengusir pelaku tambang, karena diketahui adanya tim dari LBH Sulteng yang didampingi Pengurus Forum Petani Merdeka (FPM) saat menuju lokasi.

Karena jarak lokasi tambang dari jalan trans Palu-Napu sekira 500 meter dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di tepi jalan masuk juga terdapat Pos penjagaan yang dijaga beberapa anggota kepolisian.

“Selongsong peluru ini masih baru, sepertinya baru saja ada tembakan karena masih berbau mesiu,” ujar Ahmar Wellang salah satu Pendiri LBH Sulteng sembari menunjukkan selongsong peluru tersebut.

“Mungkin ini tadi diletuskan untuk mengusir pelaku tambang agar terlihat tak ada aktivitas saat kita datang,” tambah Ahmar.

Jalan setapak menuju lokasi tambang emas di samping Pos Penjagaan, di Jalan trans Palu-Napu. [Trisno]

Forum Petani Merdeka (FPM) mengaku, tak ada warga Dongi-Dongi yang secara terang-terangan melakukan penambangan. Itupun jika ketahuan saat membawa material ref ke luar dari Dongi-Dongi untuk diolah, pasti langsung ditangkap di perjalanan.

Ketua FPM Lispin menyebut, kebanyakan orang dari luar Dongi-Dongi yang menggali material ref dan diolah menggunakan tromol di kawasan tambang Poboya Kota Palu.

“Karena di sini tidak boleh ada tromol untuk mengolah emas. Makanya material dibawa ke Poboya untuk diolah,” ujarnya.

Lantas, siapa yang bisa membawa ref itu hingga bisa diolah di kawasan tambang Poboya? [*]

Advertisements

Penulis: Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News