Pilgub Sulteng dan Problem Perburuhan

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Oleh; Muhamad Ikbal Ibrahim
Advertisements



DALAM Waktu empat bulan ke depan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) akan diramaikan momentum pemilihan kepala daerah. Kontestasi politik ini akan diramaikan dengan kampanye program, masifnya alat peraga beserta slogan,dan pemaparan visi-misi tiap calon gubernur. Demi memenangkan pertarungan ini setiap kandidat tentunya meramu programnya semenarik mungkin agar baik dimata rakyat.

Baca Juga:

Dalam programnya setiap kandidat tentunya menyertakan program-program yang berbasis kerakyatan,artinya program-program tersebut harus  mampu menyentuh kasadaran dan problem rakyat.sekalipun kadangkala programnya adalah populis dan masih bersifat umum seperti pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, peningkatan pendapatan daerah dan lain-lain. Program-program di atas menjadi program utama yang secara substansi hanya menyentuh kelas menengah keatas.

Yang sering luput dalam setiap kontestasi pilkada adalah program-program yang menyentuh kelas bawah.memang sering disebut pembangunan daerah berbasis pertanian atau perkebunan namun sepengetahuan penulis masih sangat abstrak dan tidak konkrit.pada akhirnya nasib kaum bawah tak mengalami perubahan pasca momentum pilkada, sehingga pesimisme atas program dalam setiap pilkada menjadi fakta yang tak dapat dinafikan dikesadaran rakyat. Sektor kaum bawah yang termarjinalkan dan sangat jarang tersentuh dari setiap program pilkada adalah buruh, sektor penyokong utama industrialisasi di Sulteng ini dipandang sebelah mata dalam momen pemilihan,dasar kuantitas menjadi basis argumentatif penulis menggeneralisasikan bahwa sektor ini tidak menjadi perhatian utama bagi calon yang bertarung dalam pilkada.

Advertisements

Padahal jika kita mengacu pada pertumbuhan ekonomi sulteng dalam tiga tahun terakhir pada urutan teratas adalah sektor dimana kaum buruh menjadi tulang punggung didalamya. Sektor seperti pertambangan dan perkebunan adalah dua sektor utama pertumbuhan ekonomi Sulteng. Bahkan presentasenya sampai ……% tiap tahunya atau jika di nominalkan dalam tahun 2013 saja sektor pertambangan dan perkebunan menyumbang sebesar…..dari total……PAD Sulawesi Tengah.

Fakta Miris Kaum Buruh

Memang saat ini kondisi kaum buruh sulawesi tengah sangatlah memprihatinkan,betapa tidak dari segi kesejahteraan masih jauh dari kata terpenuhi,dalam hak kepastian bekerja juga sangat rentan menghantui kaum buruh. Tahun 2015 saja dari presentase kenaikan upah minimum provinsi seluruh provinsi di Indonesia, Sulawesi Tengah menempati urutan empat terendah. Bahkan dari ukuran pulau Sulawesi upah minimum Sulteng berada dibawah Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Barat yang termasuk kategori provinsi baru dibanding Sulawesi Tengah.

Upah minimum buruh sulawesi tengah berdasarkan keputusan dewan pengupahan dan dilanjutkan oleh Surat Keputusan Gubernur Nomor: 561/55/RO.HUK-G.51/2015 adalah Rp.1.500.000. Sedangkan untuk Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Barat masing – masing berada pada angka Rp 1.600.000,- dan Rp 1.655.000,-

Fakta diatas memang menjadi keprihatinan tersendiri, dimana pemerintah sangat minim perhatian terhadap buruh.tentunya kondisi ini harus dijadikan poin of return setiap calon dalam momentum pilkada.seharusnya setiap calon yang mengusung pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah atau mengusung kebijakan industrialisasi disulawesi tengah menempatkan buruh sebagai dasar kebijakan dalam menemukan suatu sirmulasi dalam programnya di sektor ekonomi.

Advertisements

Pilgub kali ini memang adalah pertarungan dua tokoh sulawesi tengah,yang memiliki gaya kepemimpinan masing-masing. Jika longki adalah petahana atau gubernur periode sebelumnya, maka Rusdi Mastura adalah mantan walikota dua periode di Kota Palu. Tentunya aspek ketokohan diantara keduanya dapat menjadi kartu dominan pilihan rakyat. Namun pertimbangan programatik menurut hemat penulis seharusnya juga dapat dijadikan aspek penting serta dominan dalam pemilihan gubernur kali ini.

Program yang menyentuh kaum buruh dapat dimulai dengan langka sederhana yakni memahami secara detail kondisi perburuhan Sulawesi Tengah yang sangat rentan terhadap pelanggaran haknya. Pemutusan kerja secara sepihak, upah yang rendah dan dibawah ketetapan Upah Minimum, diskriminasi hak ketenagakerjaan, rentan pekerja mengalami kecelakaan kerja adalah sebagian masalah yang membelit buruh Sulawesi Tengah. Langkah awal yang dapat ditempuh untuk memperbaiki semua adalah kelak pemerintahan daerah harus mampu membangun otoritas tersendiri yang bersifat disiplin serta memaksa, dalam arti tidak menjadi lemah dimata investasi dan gembong modal.

Pilgub adalah Point of Return

Pemilihan gubernur kali ini menjadi momentum bagi merevitalisasi kebijakan baik kebijakan yang dianggap gagal dimasa sebelumnya atau juga menghasilkan kebijakan yang bernilai baru. Dalam momentum ini setiap kandidat akan menyusun program yang sebisa mungkin menyentuh rakyat, yang mana hal ini akan berdampak terhadap keberhasilan pememangan kandidat tersebut.

Namun yang tidak boleh dilupakan adalah tujuan memang ini tidak boleh menjadi alasan dominan atas penyusunan  program, namun harus pemenuhan hajat rakyat yang menjadi utama. Setiap kandidat sudah seharusnya untuk menyusun program dalam sektor perburuhan yang mana titik pijaknya adalah berbagai problem dalam sektor perburuhan.

Kesejahteraan buruh adalah rujukan dan ukuran setiap pemerintah yang getol bicara pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Sektor pertambangan, perkebunan dan pertanian adalah sektor ekonomi yang mana disitu terdapat dua kelas masyarakat utama penunjang ekonomi yakni petani dan buruh.olehnya dalam sektor ekonomi industri mustahil bicara pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tanpa memenuhi kebutuhan kaum buruh sulawesi tengah. Kemajuan program ekonomi industrialisasi yang akan menjadi platform utama setiap kandidat dalam pemilihan gubernur kali ini akan ditentukan sejauh mana keseriusan pemerintahan terpilih nantinya terhdap kaum buruh.
Artinya program kampanye akan menjadi bualan kosong jika tanpa perhatian terhadap buruh didalamnya.[***]

(Penulis adalah Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah)

Advertisements
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News