Poboya Termasuk Lokasi Tambang Emas Raksasa Indonesia, Berapa Potensinya?

  • Whatsapp
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) bakal memulai uji coba produksi di tambang emasnya do Poboya, Kota Palu. [Dok/BUMI via CNBC]

Jakarta, JurnalNews.id – Indonesia memang kaya akan mineral, salah satunya adalah tambang emas. Sejak dulu sampai saat ini, temuan tambang emas raksasa tak pernah berhenti di Indonesia.

Salah satu tambang raksasa emas raksasa tersebut adalah tambang emas Poboya yang berada di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dan digarap oleh Grup Bakrie melalui anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Baca Juga

BRMS adalah anak usaha Grup Bakrie yang 36% sahamnya dipegang oleh Bumi Resources.

“Proyek tambang emas tersebut memiliki jumlah cadangan sekitar 3,9 juta ton bijih dan jumlah sumber daya sekitar 7,9 juta ton bijih,” ujar CEO dan Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata, dalam keterangan tertulisnya yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (7/10/2019).

Untuk diketahui, menurut hitungan BRMS, tiap ton ore yang ditambang berpotensi hasilkan 4,3 gram emas murni.

Melalui anak usahanya yang dimiliki sebesar 96,97%, PT Citra Palu Minerals, BRMS mengoperasikan lebih dari 85.180 hektare konsesi tambang emas di Sulawesi Tengah dan Selatan.

Menurutnya, pekerjaan konstruksi di tambang tersebut sudah selesai. “Kami harapkan agar fasilitas produksi tersebut dapat segera bekerja. Semoga uji coba produksi dari lokasi tambang Poboya dapat dimulai di kuartal ke-4 tahun 2019 ini.”

Proyek tambang emas Poboya di Palu yang dioperasikan oleh BRMS diharapkan dapat memulai uji coba produksinya di kuartal ke-4 tahun 2019 ini. Produksi di tahun pertama diproyeksikan sebesar 100.000 ton bijih. Level produksi tersebut diharapkan dapat naik menjadi 180.000 ton bijih pada tahun kedua.

Jika kegiatan penambangan mulus, produksi emas dari tambang di Palu ini bisa naik sampai 600.000 ton ore dalam beberapa tahun mendatang. Izin konstruksi dan produksi untuk tambang ini berlaku sampai 2050.

Berikut daftar tambang-tambang emas raksasa di Indonesia termasuk tambang emas Poboya, yang dioperasikan oleh emiten di Bursa Efek Indonesia.

1. Freeport
Siapa yang tak kenal tambang emas raksasa yang ada di Papua ini. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan berdasarkan data 2018, Freeport memproduksi 6.065 ton konsentrat per hari. Konsentrat ini adalah pasir olahan dari batuan tambang (ore), yang mengandung tembaga, emas, dan perak.

Dalam data Freeport, dalam setiap ton konsentrat 26,5% adalah tembaga, Lalu setiap ton konsentrat mengandung 39,34 gram emas. Kemudian dalam setiap ton konsentrat mengandung 70,37 gram perak.

“Jadi kami produksi 240 kg lebih emas per hari dari Papua,” kata Tony. Freeport saat ini memiliki tambang tembaga dan emas bawah tanah terbesar di dunia, yang terus dikembangkan. Tambang bawah tanah ini bisa menghasilkan 3 juta ton konsentrat per tahun.

Tony mengatakan, cadangan ini akan terus ada hingga kontrak Freeport berakhir di 2041. Bahkan masih ada cadangan tembaga dan emas di bawahnya lagi sekitar 2 miliar ton, yang bisa terus digali hingga 2052, bila kontrak Freeport diperpanjang pemerintah Indonesia.

2. Amman Mineral
Dulu nama tambang ini dikenal sebagai PT Newmont Nusa Tenggara. Kini telah berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Produksi emas dari tambang batu hijau yang berada di Nusa Tenggara Barat ini bisa mencapai hingga 100 kilo Oz emas dan 197 juta pound tembaga setahun.

Saat ini, Amman sedang melakukan fase tujuh atau tahap terakhir untuk menambang di batu hijau.

Berdasarkan laporan PT Medco Energi Internasional Tbk, induk usaha Amman Mineral, fase tujuh bisa menggenjot produksi 4,47 miliar pon tembaga dan 4,12 juta ounce emas pada akhir 2020 atau awal 2021.

3. Martabe
Tambang emas yang berada di Sumatera Utara ini berada di bawah kendali PT United Tractors Tbk (UNTR) sejak Agustus lalu. Dengan akuisisi, UNTR resmi menjadi 95% pemilik saham PT Agincourt Resources yang mengelola tambang emas Martabe. UNTR juga anak usaha Grup Astra.

Produksi di tambang emas Martabe pada kisaran level 300.000-350.000 ons/tahun. Direktur Keuangan United Tractors Iwan Hadiantoro mengatakan jumlah produksi di tambang tersebut stagnan selama 2 tahun berturut-turut, sehingga perusahaan memproyeksikan produksi di tahun depan masih akan sama.

“Produksi belum tahu sekarang, at least 300 ribu-350 ribu ons emas/tahun. Sekarang segitu, sudah 2 tahun (produksinya) segitu, emas makin lama makin turun makanya eksplorasi terus,” kata Iwan di Ritz Carlton, Jakarta.

4. Merdeka
PT Merdeka Cooper Gold Tbk (MDKA) bisa dibilang pemain baru di bidang tambang mineral. Perusahaan yang dimiliki oleh Saratoga ini menargetkan akan meningkatkan produksi mineral yakni emas, perak dan tembaga pada tahun ini.

Corporate Secretary Merdeka Cooper Gold, Adi Adriansyah Sjoekri, mengatakan untuk produksi emas tahun ini target produksinya 180.000 Oz [ounce] sampai 200.000 Oz, “Sedangkan di kuartal I 2019 ini realisasinya sudah mencapai 600.000 Oz,” jelasnya.

Produksi emas ini juga naik dari realisasi produksi perusahaan sepanjang 2018 yang sebesar 167.506 Oz. Peningkatan produksi ini didukung dengan adanya peningkatan produksi pada lapisan oksida di tambang Tujuh Bukit dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton.

5. Renuka
PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) sebelumnya bergerak di sektor batu-bara, namun belakangan juga menggali emas. Perseroan resmi diambilalih oleh Wilton Resources Holding Pte. Ltd (WRH) dan saat ini memiliki kepemilikan sebesar 96,95% atas perusahaan.

Mulai Juni 2019, perseroan memproduksi emas dalam bentuk ore. Target produksi emas perusahaan diharapkan bisa mencapai 185.000 troy ons per tahun dan memperbaiki kinerja keuangan.

Setelah melakukan penjualan tambang emas di tahun lalu, pemasukan perusahaan mulai 2018 ini hanya disumbangkan dari usaha management mining support service di Ciomas Gold Project yang akan dimiliki langsung oleh perusahaan.

Tambang yang berlokasi di Jawa Barat ini memiliki total cadangan sebanyak 26 ton gold content.

6. Antam
Kali ini giliran BUMN yang unjuk gigi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menggali emas dari tambang yang berada di Pongkor, Jawa Barat. Namun, tambang ini sendiri akan habis kontraknya pada 2021 mendatang.

Direktur Utama Antam, Arie Prabowo Arietedjo, mengatakan meskipun sudah mau habis pihaknya masih mencoba melakukan eksplorasi di Tambang Pongkor. Tambang emas Pongkor beroperasi sejak 1994 silam.

Hingga Desember 2018, Aneka Tambang memiliki cadangan emas seberat 19 ton dan sumber daya emas setara dengan 42 ton. Pada tahun ini, mereka menargetkan volume produksi sebanyak 2 ton emas.

7. BRMS
Terbaru, anak usaha Group Bakrie baru saja mengumumkan soal rencana produksi tambang emas mereka tambang Poboya, yang berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Tambang ini tepatnya digarap oleh PT Bumi Resources Minerals (BRMS), yang 36% sahamnya dipegang oleh PT Bumi Resources (BUMI).

“Proyek tambang emas tersebut memiliki jumlah cadangan sekitar 3,9 juta ton bijih dan jumlah sumber daya sekitar 7,9 juta ton bijih,” ujar CEO dan Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata, dalam keterangan tertulisnya, Senin (07/10/2019).

Menurut hitungan BRMS tiap ton ore yang ditambang berpotensi hasilkan 4,3 gram emas murni.

Proyek tambang emas Poboya di Palu yang dioperasikan oleh BRMS diharapkan dapat memulai uji coba produksinya di kuartal ke IV-2019. Produksi di tahun pertama diestimasikan 100.000 ton bijih. Level produksi tersebut diharapkan dapat naik menjadi 180.000 ton bijih di tahun kedua.

Jika kegiatan penambangan mulus, produksi emas dari tambang di Palu ini bisa naik sampai 600.000 ton ore dalam beberapa tahun mendatang. Izin konstruksi dan produksi untuk tambang ini berlaku sampai 2050. [***]

Pos terkait