Profil Nurdin Abdullah, Kepala Daerah Segudang Prestasi yang Dicokok KPK

  • Whatsapp
Gubernur Sulsel, Prof HM Nurdin Abdullah. | Foto: Fajar
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel)  Nurdin Abdullah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat 26 Februari 2021 malam. Nurdin ditangkap akibat dugaan tindak pidana korupsi.

Usai dilakukan OTT, Nurdin Abdullah yang ditangkap bersama lima orang lainnya langsung diterbangkan ke Jakarta, pada Sabtu 27 Februari 2021 sekira Pukul 07.00 Wita.

Baca Juga

Dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, diakses pada Sabtu (27/2/2021), Berikut profil lengkap Nurdin Abdullah.

Nurdin Abdullah lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 7 Februari 1963.

Nurdin menempuh pendidikan sampai S3 Doctor of Agriculture Kyushu Universitas Jepang pada 1994. Dia juga menjadi Guru Besar almamaternya, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas). Dia meniti karier sebagai pengajar di Unhas dan pengusaha.

Karier politiknya mendapat sorotan saat dia menjadi Bupati Bantaeng dua periode (2008-2013 dan 2013-2018). Nurdin kemudian melangkah naik menjadi Gubernur Sulawesi Selatan masa bakti 2018-2013, diusung oleh tiga parpol, yakni PKS, PDIP, dan PAN.

Nurdin juga merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dalam masa bakti 2015-2020.

Menilik profilnya, Nurdin punya segudang prestasi. Profesor bidang agrikultur itu dulu adalah Bupati Bantaeng periode 2008-2018.

Pada 2013, sebagaimana dikutip dari detikcom, Nurdin dimasukkan dalam 19 tokoh alternatif menurut Komunike Bangsa Peduli Indonesia (KBPI) yang digagas pengusaha senior Sofjan Wanandi. Ia disebut sebagai figur capres alternatif.

Sejajar dengan tokoh bereputasi seperti Jusuf Kalla, Khofifah Indar Parawansa, Chairul Tanjung, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Pria bergelar profesor ini juga berhasil membuat Bantaeng memenangi Piala Adipura empat tahun berturut-turut.

Pada 2015, Nurdin dianugerahi ‘Tokoh Perubahan’ oleh media Republika bersama kepala daerah lain, termasuk Tri Rismaharini, Abdullah Azwar Anas, Din Syamsuddin, dan tokoh berprestasi lainnya.

Saat pemberian penghargaan berlangsung, Taufiequrrahman Ruki, yang menjadi Ketua KPK, turut hadir bersama pejabat lainnya, termasuk Kapolri saat itu, yakni Jenderal Badrodin Haiti, hingga Ketua DPD saat itu, Irman Gusman. Nama terakhir belakangan juga kena OTT KPK.

Berita Terkait

Google News