Proyek Jembatan Mangkrak, Warga Labuan Resah

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Proyek pembangunan jembatan di jalan poros nasional Palu-Sabang di Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), hingga saat ini masih mangkrak. Padahal, jembatan lama yang menjadi jalur utama di poros itu sudah dibongkar total, sejak sekira dua bulan lalu.

Namun hingga saat ini, proyek yang menjadi tanggungjawab Satker Proyek Jalan Nasional (PJN) I Sulteng itu tidak ada kejelasan, kapan akan dikerjakan. Proyek dengan nama paket Preverensi Jalan dan Jembatan Ruas Tompe-Palu-Surumana itu kini mangkrak tanpa ada kepastian.

Baca Juga

Paska melakukan pembongkaran jembatan sebelumnya, PT. Mitra Ayanga Nusantara selaku pelaksana proyek tersebut juga tidak melakukan aktifitas apapun di lokasi. Bahkan, di lokasi proyek tidak ada material proyek ataupun alat berat yang akan digunakan untuk melanjutkan pekerjaan tersebut..

Akibat tidak adanya kejelasan penyelesaian proyek tersebut, warga kecamatan Labuan menjadi resah. Pasalnya, selain tidak jelas kapan penyelesaian proyek, jalan alternatif yang digunakan juga makin rusak, karena harus dilalui kendaraan yang tidak sesuai kapasitas jalan.

Sejumlah warga Desa Labuan Panimba mengaku tidak habis pikir bagaimana cara pelaksana menyelesaikan proyek yang total nilai kontraknya sekira Rp14 miliar tersebut. Warga sekitar juga mengaku sudah mulai habis kesabaran, karena ulah kontraktor yang menunda-nunda pekerjaannya.

“Kami ingatkan, jangan sampai kami habis kesabaran dan bertindak sendiri,” sebut salah satu warga, di lokasi proyek, Sabtu (21/7/2018).

Keluhan warga tersebut disahuti Anggota DPRD Sulteng Muh. Masykur. Ia mendesak pihak PT. Mitra Ayanga Nusantara untuk segera menyelesaikan tanggungjawab pekerjaannya.

Masykur juga meminta kontraktor pelaksana bersikap transparan kepada warga dan menyebutkan apa kendala, serta bagaimana solusi jangka pendek yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini.

“Sebab jangan sampai proyek ini dinilai gagal perencanaan. Alangkah jauh lebih baik jika bersikap terbuka. Apakah masalahnya diperencanaan, anggaran atau masalah teknis di lapangan,” jelas Masykur yang juga Wakil Ketua Komisi III, DPRD Sulteng ini.

Kata Masykur, jika perencanaan matang mestinya mereka siapkan jembatan darurat. Apakah itu berupa rangka baja bekas atau jembatan batang kelapa seperti yang biasa digunakan.

“Kepala Satker PJN I harus serius mengawal dan mengawasi pelaksanaan yang dilakukan kontraktor selaku pelaksana di lapangan,’ tutupnya.

Sementara itu, PPK Proyek jembatan Labuan, Alirman Nubi, ST belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepeon seluler di nomor 0811456xxx, Alirman tidak menjawab panggilan telepon, meski berulang kali terdengar nada tersambung. [***]

 

Penulis; Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News