Proyek Rp26 Miliar Diduga Asal Kerja, Terindikasi Ada Pengurangan Volume

  • Whatsapp
Salah satu titik hamparan prime coat yang dikerjakan oleh pelaksana proyek yang tidak merata dan [Foto: Tim]
Bagikan Artikel Ini
  • 89
    Shares

Tolitoli, JurnalNews.id – Paket proyek peningkatan jalan Bilo-Tambun Batas Kota Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), yang dianggarkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Penugasan di Dinas PU Bina Marga dan Penataan Ruang (Bimatarung) Sulteng Tahun 2020.

Hal ini dikemukakan oleh Kepala Biro perwakilan Lembaga Pemerhati Konstruksi, Chandra ketika meninjau dan melakukan investigasi di lokasi proyek belum lama ini.

Baca Juga:

“Ada indikasi telah terjadi konspirasi. Hal itu terbukti karena para PPTK selaku Kuasa Pengguna Anggaran menyetujui pembayaran, padahal pekerjaan seperti ini berdampak pada mutu dari pada jalan tersebut,” tegas Chandra.

Proyek yang dikerjakan PT. Wahana Cipta Lestari dengan nilai kontrak Rp26.149.511.000,00 ini terindikasi tak sesuai spesifikasi dan beraroma pengurangan volume. Di mana proyek tersebut menurut data dan informasi dihimpun, ada sejumlah dugaan pengurangan volume pekerjaan.

Advertisements

Dari segi spesifikasi teknis ada indikasi yang dilanggar, seperti penggunaan prime coat atau lapis resap pengikat. Ini menjadi salah satu dugaan bahwa kualitas dari pekerjaan perusahaan yang diketahui milik kontraktor asal Tolitoli yang biasa disapa Bolong menjadi sorotan.

“Dugaan kami bahwa itu tdk disiram, tapi seperti bercak-bercak saja, padahal ada ketentuan teknis berapa liter per meter luas, kemudian surface jalan seyogyanya kemiringan 2 persen dari centre line jalan ke kiri kanan atau mengarah ke drainase,” ungkapnya.

Menurut Chandra, hal itu sering tidak diperhatikan oleh inspektor, konsultan supervisi, dan tenaga teknis dari pihak kontraktor pelaksana. Pengerjaan peningkatan jalan tersebut diduga banyak titik yang tidak merata pada proses pengerjaan prime coat, bahkan pekerjaan lapis pondasi angregat kelas atasnya juga diduga sangat tipis ketika melakukan penghamparan aspal cair atau prime coat. Di mana itu dilakukan dalam kondisi basah dan tidak merata. Oleh sebab itu, peningkatan jalan tersebut patut dipertanyakan.

Advertisements

“Pengaspalan hotmix tidak bisa lepas dari item pekerjaan lapis resap pengikat yaitu lapisan yang diletakan di bagian atas pondasi agregrat kelas A yang sudah dipadatkan serta memenuhi syarat kontrak. Kalau item prime coat tidak dilaksanakan secara merata sesuai gambar kerja maka pekerjaan tersebut sulit untuk berbicara kualitas atau mutu pekerjaan sebab item ini jelas ada dalam RAB-nya,” katanya.

Chandra menuturkan, kalau pengerjaan jalan mengabaikan prime coat dan lapis agregat kelas A tergenang air dalam proyek pembuatan jalan, maka sudah dipastikan pelaksanaannya tidak mengutamakan kualitas dan mutu. Selain itu, pekerjaan tersebut diduga telah terjadi kecurangan dengan melakukan pengurangan volume. Wajar bila menimbulkan pertanyaan mereka sebab ada indikasi kerugian negara, seperti prime coat di lapis agregat atas yang tidak memenuhi syarat untuk meraih keuntungan lebih dari proyek tersebut.

Sejumlah pihak kata dia, patut menduga bahwa ada indikasi telah terjadi konspirasi, para Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Kuasa Pengguna Anggaran menyetujui pembayaran, padahal pekerjaan seperti ini berdampak pada mutu dan kualitas dari jalan tersebut.

Sementara, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) PU Bina Marga dan Penataan Ruang, Mamat yang dikonfirmasi, Selasa (6/10/2020) malam, membantah dugaan dan spekulasi-spekulasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa penggunaan prime coat pada permukaan lapisan klas A berkisar 0.4 sampai dengan 1,3 M2.

“Untuk kasus yang ditanyakan sesuai penjelasan pengawas bahwa sehari sebelumnya sudah dilakukan prime coat, namun karena hujan besoknya baru dilakukan pengaspalan,” tutur Mamat

Ia mengatakan bahwa kondisi prime coat sudah dilewati kendaraan, maka pengawas menyuruh dilakukn prime coat kembali. Jadi prime coat yang dimaksud adalah tambahan terhadap sebelumnya yang sudah ada.

Advertisements

“Untuk kemiringan permukaan aspal dilakukan pada saat penghamparan aspal pada alat finisher, di mana pada alat tersebut sudah dilengkapi dengan mistar untuk mengukur kemiringan aspal,” jelasnya. [TIM]

Iklan
loading...

Berita Lainnya

Google News