Ratusan Warga Rio Pakava Kembali Datangi PN Donggala

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Donggala, Jurnalsulawesi.com – Ratusan warga Desa Lalundu, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, kembali mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Donggala, Kamis (25/10/2017).

Kedatangan warga Lalundu tersebut untuk memberikan dukungan kepada Sukidi dan Budi Mulyono, dua warga Lalundu yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengrusakan dan pembakaran.

Baca Juga

Sebelumnya, Kamis (19/10/2017) pekan lalu, ratusan warga Lalundu ini datang dengan menggunakan belasan unit truck, mobil pick up, serta puluhan kendaraan roda dua.

Kordinator Lapangan (Korlap) I Ketut Sudana mengatakan, Sukidi dan Budi Mulyono hanyalah korban dari ulah premanisme yang dilakukan oleh Lihi, preman di Lalundu yang kerap membuat resah warga desa.

“Ada aksi ada reaksi. Sukidi dan Budi Mulyono ini hanya membela diri karena sering dintimidasi oleh preman bernama Lihi,” kata I Ketut Sudana yang juga Kepala Desa Panca Mukti itu.

Ketut Sudana mengatakan, kemplotan Lihi ini kerap memalak warga dengan senjata tajam. Lihi dan anak buahnya bahkan tidak segan-segan melukai warga desa bila keinginan mereka tidak dipenuhi. Lanjut I Ketut Sudana, warga desa yang resah akhirnya melawan. Rumah preman bernama Lihi ini akhirnya dibakar oleh warga.

“Di desa kami tidak ada yang berani melapor. Jika ada yang berani melapor pasti terancam makanya masyarakat menjadi resah dan takut. Hanya Sukidi dan Budi Mulyono berani melawan sehingga terjadilah aksi pengrusakan disertai pembakaran rumah Lihi tersebut,” ujarnya.

I Ketut Sudana mengatakan, aksi premanisme yang dilakukan Lihi dan kempolotanya di Kecamatan Riopakava sudah tidak bisa ditolerir. Aksi itu sudah berlangsung lama dan tidak tersentuh oleh hukum. Padahal beber Ketut, warga sudah sering melaporkan ulah Lihi kepada pemerintah desa dan aparat kepolisian.

Warga datang ke PN Donggala dengan membawa spanduk untuk menuntut keadilan terhadap tindak premanisme. [Jose Rizal]
“Sudah bertahun-tahun aksi premanisme di Kecamatan Riopakava tapi tidak ada tindakan. Bahkan Kantor Desa Bonemarawa dipalak ADD-nya. Aparat desa tidak berani melawan,” sebutnya.

Sementara itu Kapolres Donggala, AKBP Arie Ardian, SIK mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga stabilitas keamanan.

Kapolres mengatakan, warga harus menghormati proses hukum yang sudah berjalan.

“Boleh mengawal sidang tetapi jangan melakukan penggerakan massa karena beresiko, cukup utusan saja yang masuk kedalam ruang sidang. Kalau ada aksi premanisme, warga jangan takut melapor ke polisi, kami akan menindaklanjuti laporan warga,” tukasnya. [***]

 

Rep; Jose Rizal

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News