Reshuffle ala Jokowi dan Mimpi Buruk PDIP

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Sri Mulyani masuk kabinet atas permintaan Presiden World Bank.

Jurnalsulteng.com – Kabinet Kerja sudah memeluk neoliberalisme dengan kompromi antara Bank Dunia/IMF dengan Presiden Joko Widodo dimana Sri Mulyani masuk kabinet atas permintaan Presiden World Bank. Pertanyaannya, bagaimana bisa Jokowi melaksanakan Nawa Cita dan Trisakti Soekarno dengan Neoliberalisme Bank Dunia yang sudah pasti mencekik leher rakyat kita?

Bank Dunia punya kepentingan bercokol agar pemerintahan Jokowi memangkas subsidi, melakukan privatisasi, liberalisasi ekonomi dan perdagangan, menambah utang dan seterusnya, sementara Nawa Cita dan Trisakti lebih mengutamakan gotong-royong, kemandirian dan kedaulatan ekonomi-politik di Indonesia.

Baca Juga:

Ketidakhadiran Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dalam prosesi pelantikan 12 menteri dan BKPM yang baru mengisyaratkan PDIP tidaklah senang, tak ‘happy’ dengan susunan dan struktur baru Kabinet Kerja yang makin ompong dari visi Nawa Cita dan Trisakti.

Megawati sendiri biasanya dalam prosesi pelantikan menteri dan pejabat baru selalu hadir. Kali ini dirinya tidak ikut hadir. Hal tersebut tentunya menjadi banyak pertanyaan di kalangan masyarakat.

Advertisements

Kabinet Jokowi ini sungguh lumpuh untuk menjalankan Nawa Cita dan TRisakti dengan akibat yakni melemahnya rupiah dan melambungnya beban utang negara dan swasta yang mencapai US$360 miliar, malah Neoliberalisme Bank Dunia menjadi pelukan barunya.

Masih dipertahankannya Rini Soemarno di kabinet oleh Presiden, menunjukkan PDIP sudah tidak didengar Presiden dan Megawati Soekarnoputri semakin tidak diindahkan lagi. Sejauh ini, PDI-P sudah cukup lama mendorong Presiden agar Rini diganti sebagai Menteri BUMN.

Presiden bukan saja tidak mau mendengar PDI-P dalam soal Rini, tetapi Presiden Jokowi bahkan mengangkat Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Sedangkan bagi PDI-P, Sri dianggap orang yang bertanggungjawab dalam kebijakan bailout kasus Centurygate. Inilah mimpi buruk bagi kandang Banteng.

Advertisements

Oleh sebab itu, masuk akal kalau analis politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, mengatakan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan tampaknya tidak happy dengan formasi kabinet hasil reshuffle jilid dua ini.

“Kursi PDIP di kabinet memang tidak berkurang, tetapi ketika orang-orang yang kurang mereka sukai tetap dipertahankan dan dimasukkan ke dalam kabinet oleh Presiden Jokowi, maka secara politik ini dapat dimaknai pengaruh PDI-P di hadapan Presiden Jokowi cenderung semakin melemah,” kata Said.

Sekali lagi, para analis melihat, mimpi buruk di kandang Banteng ini tidak akan hilang karena makin hari makin pasti bahwa Jokowi tidak lagi mengindahkan pandangan, saran dan aspirasi mantan Presiden Megawati yang menjadi Ibu Suri politik Jokowi. Jokowi sudah mendapat dukungan Golkar, PAN, PPP, Nasdem dan PKB, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menolak mengindahkan pandangan, saran dan aspirasi Ibu Suri yakni Megawati.

”Dalam politik Indonesia hari-hari ini pasca reshuffle Jokowi, kian kelihatan tidak ada teman dan lawan yang abadi, kecuali kepentingan,” kata Darmawan Sinayangsah, peneliti politik dari Freedom Foundation dan alumnus Fisip UI .

Adakah ini kepentingan kekuasaan ala Jokowi dan mimpi buruk PDIP Megawati? (Dari berbagai sumber)

Source; Inilah.com

Advertisements
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News