SANTOSO PENYELAMAT [Mengenang Pak Muladi]

  • Whatsapp
Prof Muladi. | Foto: Merdeka
Bagikan Artikel Ini
  • 6
    Dibagikan

Oleh: Joko Intarto
Perjuangan menjadi wartawan Jawa Pos modal gadai ijazah pada kisah sebelumnya barulah awal. Cerita di RS Islam Siti Khodijah Wonokromo, Surabaya itu, masih berlanjut. Dan kian seru.

Aksi menginap gratis di emper ruang perawatan Mas Mukhlis di RS Islam Siti Khodijah, Wonokromo, berlangsung lancar. Walau tidak bisa tidur nyenyak, tetap masih lebih enak. Setidaknya tidak menguras isi dompet yang tak seberapa itu.

Lihat Juga

Seusai subuh, kitar pukul 05.00 saya berangkat ke kantor Jawa Pos di Jalan Karah Agung, Ketintang Barat. Hari itu jadwal tes hari pertama. Saya sengaja berangkat pagi-pagi agar tidak kesiangan tiba di lokasi. Maklum, butuh waktu dua jam untuk berjalan kaki santai dari rumah sakit sampai di kantor Jawa Pos.

Sekitar pukul 07.00, saya sudah tiba di kantor Jawa Pos. Suasana kantor masih sepi. Pelamar calon wartawan sepertinya belum berdatangan. Atau memang yang diundang hanya sedikit.

Sambil menunggu jadwal tes yang masih dua jam lagi, saya nongkrong di warung makan tak jauh dari kantor Jawa Pos. Waktu dua jam cukup untuk sarapan dan baca-baca koran pagi.

Merasa tak tenang di warung, saya bergegas masuk ke kantor Jawa Pos ketika jarum jam menunjuk ke angka 8. Ternyata di dalam sudah banyak orang. Menurut informasi penitia seleksi, yang melamar ada 900 orang. Yang dipanggil hanya 125 orang saja.

Saat tes dimulai, lima orang pelamar dipanggil ditemui lima wartawan senior Jawa Pos. Saya diminta menghadap Pak Ali Murtadlo, redaktur halaman kota Surabaya.

Pak Ali membuka salam lalu mewawancarai saya dengan bahasa Inggris.

Matilah awak. Masalah terbesar saya muncul di awal seleksi!

Ah. Masa bodoh. Langsung saya sampaikan ke Pak Ali bahwa saya tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pak Ali hanya tertawa. ‘’Mas Joko, Jawa Pos membutuhkan 11 wartawan. Yang 7 harus berbahasa Inggris baik. Yang 4 tidak perlu berbahasa Inggris baik,’’ kaya Pak Ali.

‘’Saya akan berusaha masuk ke 4 yang tidak berbahasa Inggris baik saja,’’ jawab saya.

‘’Boleh. Tapi harus punya keunggulan, misalnya mampu menulis berita lebih baik dari yang lain dan punya wawasan yang baik tentang hukum dan kriminalitas,’’ kata Pak Ali.

‘’Wah, itu cocok dengan karakter saya Pak,’’ jawab saya.

‘’Anda senang dengan berita hukum dan kriminalitas?’’ tanya Pak Ali.

Berita Terkait

Google News