Siapa “Hantu” di Balik PETI Dongi-Dongi

  • Whatsapp
Kondisi lokasi PETI Dongi-Dongi di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, pada Sabtu (4/7/2020). [Trisno]
Bagikan Artikel Ini
  • 387
    Shares

Palu, JurnalNews.id – Potensi kandungan mineral emas di lokasi penambangan emas tanpa izin (PETI) Dongi-Dongi di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, memang sangat menggiurkan.

Hal itu terbukti saat JurnalNews.id mengunjungi lokasi pada Sabtu (4/7/2020). Bersama Tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulteng sempat melakukan uji sample dengan cara sederhana untuk mengetahui kandungan emasnya.

Baca Juga

Sample berupa sejumput tanah bercampur pasir itu diuji dengan cara sederhana menggunakan air mineral, yang istilah di tambang tradisional di-tibe, menggunakan piring kecil seukuran tatakan cangkir. Hasilnya, terlihat titik-titik kilau emas yang tertinggal. Titik kilau emas itu menunjukkan kandungan emasnya sangat besar.

Maka sangat wajar bila beberapa waktu lalu membuat orang berbondong-bondong melakukan penambangan liar di wilayah itu, walau akhirnya dinyatakan ditutup pada 2016 silam. Tetapi faktanya, hingga hari ini aktivitas penambangan masih terus berlangsung yang dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, meski ada penjagaan ketat di lokasi.

Advertisements
Tim LBH Sulteng saat mengunjungi lokasi PETI Dongi-Dongi, Sabtu (4/7/2020). Tampak aparat kepolisian berjaga di lokasi yang dilengkapi senjata laras panjang. [LBH Sulteng]

Bahkan, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) juga mengakui masih ada aktivitas di lokasi tambang emas tersebut. “Kami sudah melakukan berbagai upaya agar tidak ada lagi kegiatan menambang. Akan tetapi, ternyata masih saja ada yang menambang di sana,” kata Kepala Balai Besar TNLL, Jusman, yang dilansir Antara, pada Rabu (1/7/2020).

Pelaku penambangan tanpa izin pun seakan dikaburkan. Informasi yang diperoleh di Kota Palu sempat disebutkan beberapa nama yang menjadi cukong dari kegiatan tak berizin itu.

Sementara, warga Dongi-Dongi yang nyata-nyata sebagai pengolah lahan pekebunan dan pertanian di sekitar lokasi, kini hanya bisa menjadi penonton para penikmat hasil emas yang menggiurkan itu.

Patut diduga, ada oknum-oknum yang memiliki kekuatan yang menjadi backing pengambilan material di tengah ketatnya penjagaan, serta bisa membawa ref keluar lokasi untuk diolah menjadi emas.

“Yang menikmati orang luar. Karena kami tidak berani membawa material untuk diolah menggunakan tromol di Poboya. Kalau kami yang membawa material, pasti langsung ditangkap dan harus berhadapan dengan hukum,” kata Lispin, Ketua Forum Petani Merdeka, di Dongi-Dongi pada Sabtu (4/7/2020).

Advertisements

Lispin menyebutkan, kalaupun warga nekat mengambil material ref akan mendapat tekanan-tekanan serta intimidasi. “Jika warga mendapatkan lubang yang hasilnya bagus, pasti akan diusir dan lubang itu akan diambil alih oleh yang kuat backing-nya,” kata Lispin.

Terkait adanya warga yang ditangkap karena melakukan aktivitas PETI di Dongi-Dongi juga dikatakan Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto, beberapa waktu lalu. Didik menyebutkan, sebanyak 17 orang telah ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan pertambangan tanpa izin di Dongi Dongi, Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

“15 tersangka diantaranya sudah dilakukan tahap II atau penyerahan tersangka dan barang bukti kepada Penuntut umum. Sementara 2 tersangka lagi masih dalam proses penyidikan,” kata Didik, pada Jumat (19/6/2020).

Jika sampai hari ini masih ada aktivitas penambangan, tentu ada pelaku pengambilan material serta ada yang mengangkut material hingga bisa sampai di tempat pengolahan (tromol) emas.

“Sudah dijaga dengan demikian ketat, tapi penambangan masih berlangsung dan pelaku utama bukan warga Dongi-Dongi. Tentu pelaku punya kekuatan atau backing sehingga pengambilan material terus berlangsung. Yang pasti backing-nya bukan hantu,” kata Hartati Hartono, SH, dari LBH Sulteng.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas penambangan di Dongi-Dongi berlangsung di tengah adanya penjagaan aparat kepolisian dan Polisi Kehutanan (Polhut). Pos pengawasan dan penjagaan jaraknya hanya sekira sepelemparan batu dari lubang-lubang “tikus” tempat pengambilan material ref yang mengandung emas.

Di lokasi juga terdapat beberapa lubang yang terlihat baru beberapa saat sebelumnya ditutup sementara. Timbunan dan bekas jejak kaki pelaku juga terlihat baru saja meninggalkan lokasi. [***]

Advertisements

Penulis: Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News