Singapura Menuju New Normal dengan Menganggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa

  • Whatsapp
Singapura menuju new normal. | Foto: Pixabay
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Pemerintah Singapura menyatakan akan memulai hidup new normal, dan menganggap covid-19 seperti endemik atau flu biasa.

Mengutip Straits Times, untuk mengimplementasikan hal ini, Singapura akan membuat sebuah roadmap berisi panduan mengenai cara-cara hidup dengan kenormalan baru. Ini akan dikembangkan seiring meningkatnya angka vaksinasi di negara itu.

Baca Juga

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mempersiapkan warganya, untuk bisa beraktivitas normal seperti bekerja hingga berpelesiran, tanpa aturan lockdown dan karantina meski ada ancaman virus corona di sekelilingnya.

Hal itu dilakukan dengan menyusun peta jalan bagaimana hidup lebih normal bersama Covid-19 dengan harapan virus itu akan menjadi endemik seperti influenza.

Mereka mencontohkan kasus endemik tersebut semisal influenza, penyakit tangan, kaki dan mulut, atau cacar air.

Alasannya, karena virus itu tidak akan pernah hilang, dan akan terus bermutasi, sehingga perlu menyesuaikan diri hidup bersama Covid-19.

Tiga wakil ketua gugus tugas multi kementerian Singapura yang tengah mengodok transisi ke hidup normal baru, pada 24 Juni lalu. Saat ini, mereka sedang menyusun peta jalan untuk transisi ke normal baru tersebut.

“Sudah 18 bulan sejak pandemi dimulai dan orang-orang kami lelah berperang. Semua bertanya: Kapan dan bagaimana pandemi akan berakhir?” ujar Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong, Menteri Keuangan Lawrence Wong dan Menteri Kesehatan Ong Ye Kung dalam sebuah pernyataan pers, akhir pekan lalu.

“Kabar buruknya adalah Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Kabar baiknya adalah mungkin untuk hidup normal dengannya di tengah-tengah kita.”

Para menteri itu menyebut bahwa para masyarakat yang terkena Covid-19 akan difokuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Sehingga tidak memberatkan beban fasilitas kesehatan.

Selain itu, alat tes Covid-19 dapat diperoleh secara mudah di apotek. Sehingga mereka dapat memantau kondisi mereka sendiri.

Selain itu, laporan harian tentang jumlah infeksi juga akan beralih ke fokus pada hasil. Seperti berapa banyak pasien yang jatuh sakit parah dan akhirnya membutuhkan perawatan intensif.

Sementara itu vaksinasi tampaknya efektif dalam mengurangi tingkat infeksi dan penularan. Kebanyakan orang yang divaksinasi dengan dua dosis lengkap menunjukkan gejala ringan atau tidak sama sekali bahkan jika mereka tertular virus itu.

Nantinya, pada awal bulan depan, dua pertiga dari populasi di Singapura akan menerima setidaknya satu suntikan dari dua vaksin tersebut. Saat ini Singapura memakai vaksin Pfizer dan mengomersialisasikan Sinovac.

“Tonggak sejarah kami berikutnya adalah memiliki setidaknya dua pertiga dari populasi kami divaksinasi penuh dengan dua dosis sekitar Hari Nasional, pasokan memungkinkan. Kami bekerja untuk memajukan pengiriman vaksin dan untuk mempercepat prosesnya,” kata ketiga menteri itu.

Singapura sendiri cukup terdampak oleh pandemi virus corona. Negeri pusat finansial Asia itu telah mencatatkan 62 ribu kasus dan 36 kematian sejak Covid-19 masuk ke negara itu.

Dilansir dari Strait Times, berikut langkah pemerintah Singapura menuju New Normal:

1. Percepat Vaksinasi
Singapura akan mempercepat vaksinasi. Pada 31 Mei, Perdana Menteri mengatakan mereka menargetkan dua pertiga dari populasi setidaknya sudah disuntik vaksin dosis pertama pada awal Juli.

Selanjutnya, dua pertiga dari populasi sudah divaksinasi penuh dengan dua dosis pada Hari Nasional, jika persediaan memungkinkan.

Saat ini pemerintah tengah mempercepat pengiriman vaksin dan prosesnya. Masalah vaksin menjadi prioritas utama, karena dianggap sangat efektif dalam mengurangi risiko infeksi dan juga penularan. Bahkan jika seseorang terinfeksi, gejala Covid-19 tidak akan terlalu parah.

Mereka mencontohkan pengalaman Israel yang menunjukkan tingkat infeksi di antara orang-orang yang divaksinasi 30 kali lebih rendah daripada yang tidak divaksin.

Tingkat rawat inap untuk yang divaksinasi juga 10 kali lebih rendah. Dengan pengalaman Israel yang sudah memvaksin 60 persen populasinya, dan menjadi vaksinasi tertinggi di dunia saat ini, dianggap relevan dengan kemampuannya menanggulangi covid-19.

Israel sendiri tercatat sebagai salah satu negara yang sudah bebas masker.

Mereka juga mempertimbangkan suntik vaksin booster di masa mendatang jika diperlukan. Dan merencanakan program vaksinasi tahunan yang komprehensif.

2. Permudah Pengadaan Tes Covid
Tes covid-19 dan pengawasan akan tetap diperlukan, tetapi fokusnya akan berbeda. Tes covid-19 di perbatasan akan tetap berlaku untuk mengidentifikasi siapapun yang membawa virus, terutama varian yang menjadi perhatian seperti varian delta.

Di dalam negeri, jumlah tes sebagai tracing dan penekanan penularan akan berkurang, tapi, acara, kegiatan sosial dan perjalanan ke luar negeri harus dipastikan aman, untuk mengurangi risiko penularan, terutama bagi mereka yang rentan terhadap infeksi.

Singapura juga tidak akan lagi mengandalkan tes reaksi berantai polimerase (PCR), karena dianggp prosesnya tidak nyaman dan hasilnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Karena itu, mereka berencana membuat tes Covid-19 cepat dan mudah. Saat ini, negeri Singa Putih itu telah meluncurkan tes antigen cepat, yang bisa dilakukan mandiri, atau bisa dilakukan di poliklinik, klinik swasta, dan apotek.

Bahkan mereka juga akan memakai alat tes yang lebih cepat, seperti breathalyser, yang hasilnya hanya butuh waktu sekitar satu hingga dua menit. Tanpa swab.

Alat tes cepat ini, bakal diterapkan di bandara, pelabuhan laut, gedung perkantoran, mal, rumah sakit, dan lembaga pendidikan untuk mengetes staf dan pengunjung.

Bahkan, pemerintah juga akan melakukan pengujian pada air limbah di asrama, hostel, atau perumahan, untuk mengetahui apakah ada infeksi tersembunyi.

3. Meningkatkan Layanan Perawatan
Medis Singapura akan meningkatkan layanan perawatan medis dari yang sudah ada saat ini.

Mereka tercatat telah memiliki serangkaian perawatan yang efektif, yang dinilai sukses dan mampu menekan angka kematian Covid-19 di Singapura termasuk yang terendah di dunia.

Kementerian Kesehatan akan terus memastikan negaranya memiliki persediaan obat-obatan yang memadai, dan peneliti medis akan aktif berpartisipasi dalam pengembangan perawatan baru.

4. Target New Normal
Ada target 5 norma baru yang diharapkan Singapura dengan memulai new normal ini.

Pertama, orang yang terinfeksi bisa isolasi mandiri di rumah, karena sudah suntik vaksin, sehingga gejalanya diharapkan akan lebih ringan. Dengan terpenuhinya vaksinasi untuk herd immunity, maka penularan juga diharapkan akan rendah.

Kedua, tidak perlu melakukan tracing besar-besaran dan mengkarantina setiap orang terinfeksi. Mereka dapat melakukan tes mandiri secara teratur menggunakan berbagai tes yang ditawarkan.

Kalau positif, maka barulah dilanjutkan dengan tes PCR dan kemudian disarankan mengisolasi diri.

Ketiga, tidak ada lagi penghitungan jumlah jumlah infeksi Covid-19 setiap hari, dan akan fokus pada berapa banyak yang sakit parah, berapa banyak di unit perawatan intensif, berapa banyak yang perlu diintubasi untuk oksigen. Layaknya mereka menanggapi kasus influenza saat ini.

Keempat, pemerintah juga secara progresif akan melonggarkan aturan dan membolehkan pertemuan dan acara-acara besar, seperti Parade Hari Nasional atau Tahun Baru. Dengan langkah ini, maka para pelaku usaha akan lebih terjamin kegiatan operasionalnya.

Kelima, perjalanan dari dan ke negara lain akan dibuka. Setidaknya untuk negara-negara yang juga telah mengendalikan virus dan mengubahnya menjadi norma endemik.

Untuk itu, mereka akan menggunakan sertifikat vaksinasi. Wisatawan, terutama yang sudah divaksinasi, dapat melakukan tes sendiri sebelum keberangkatan dan dibebaskan dari karantina dengan hasil tes negatif pada saat kedatangan. ***

Berita Terkait

Google News