SKANDAL DURIAN [Mengenang Pak Muladi]

  • Whatsapp
Prof Muladi.
Bagikan Artikel Ini

Oleh: Joko Intarto
Saya terpaksa naik sepeda motor dari Semarang menuju Surabaya gara-gara skandal durian. Seandainya tidak ada kasus itu, saya bisa menumpang truk koran dari kantor biro Semarang menuju Surabaya.

Setibanya di Semarang saya sempatkan mampir ke kampus. Saya ingin menyampaikan kabar kepada Pak Muladi bahwa sudah menjadi wartawan Jawa Pos. Sayangnya hanya bisa titip pesan ke Listy, anaknya, yang sama-sama kuliah di fakultas hukum. Seangkatan dengan saya.

Baca Juga

”Listi, sampaikan salam kepada Bapak. Saya sudah diterima menjadi wartawan Jawa Pos,” pesan saya kepada Listy.

Selembar koran yang memuat penguman penerimaan wartawan itu saya berikan kepadanya. ”Ini untuk Bapak.”

Saya tidak bisa berlama-lama di kampus. Siang itu juga saya harus menjual mesin ketik Brother, satu-satunya harta berharga yang bisa saya jual. Setelah itu harus ke kantor biro Jawa Pos Semarang.

Saya harus balik ke Surabaya menumpang truk koran lagi. Supaya tidak keluar ongkos. Sepeda motor pun akan dimasukkan ke truk itu.

”Mulai hari ini mobil-mobil angkutan koran tidak boleh membawa barang selain koran,” kata pegawai kantor biro Jawa Pos di Semarang.

”Hah? Kemarin Mbak Oemi bilang sepeda motor boleh dimasukkan truk. Ini surat pengantarnya,” kata saya.

”Itu surat kemarin. Ini sudah ada surat edaran baru melalui faksimili,” ujar petugas itu.

”Kenapa tiba-tiba truk tidak boleh mengangkut sepeda motor?” tanya saya.

”Gara-gara skandal durian,” jawabnya.

‘’Skandal durian’’ itu sendiri terjadi saat saya menjalani tes masuk Jawa Pos. Katanya, ada beberapa orang pembaca Jawa Pos komplain gara-gara korannya bau durian.

Berita Terkait

Google News