Spesialis Paru: Begini Mengenal Ciri Infeksi Virus Corona Tanpa Gejala

  • Whatsapp
[Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini
  • 221
    Shares

Jakarta, JurnalNews.id – Sejak merebak pada Desember 2019 hingga kini, virus corona jenis baru membuat orang merasa khawatir dengan batuk atau bersin. Betapa tidak, virus penyebab Covid-19 ini menular melalui droplet atau partikel tetesan dari batuk, bersin atau ketika bicara.

Akan tetapi, seseorang bisa terinfeksi atau membawa virus corona tanpa menunjukkan gejala. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto sempat menyebut hampir 80 persen pasien yang positif Covid-19 menunjukkan gejala ringan atau tanpa gejala.

Baca Juga

 

Dokter Mohamad Fahmi Alatas, spesialis paru menjelaskan, dalam dunia medis orang seperti itu disebut sebagai ‘carrier’.

“Kemungkinannya sewaktu menginfeksi orang, orang itu tidak sakit. Dia membawa-bawa virus corona di saluran napasnya tapi daya tahan tubuhnya cukup kuat untuk mempertahankan kesehatannya,” jelas Fahmi dalam sebuah video yang ia unggah dalam akun Youtube miliknya.

Tanpa gejala
Imbauan untuk tetap di rumah sebaiknya tak lagi disepelekan. Meski Anda sehat, ada kemungkinan Anda adalah carrier virus tanpa gejala.

Advertisements

“Transmisi tanpa gejala artinya Anda bisa terinfeksi virus, tidak menunjukkan gejala dan tetap bisa menularkan,” jelas William Schaffner, profesor kedokteran pencegahan dan penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center, mengutip dari ABC News.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperingatkan, sebanyak 25 persen orang terinfeksi virus corona tidak menunjukkan gejala. Ini pun ditindaklanjuti dengan memperluas pedoman pemakaian masker.

“Ini menjelaskan bagaimana virus menyebar dengan cepat di seluruh negara,” kata Robert Redfield seperti dikutip New York Times.

Karena vaksin masih dalam tahap awal pengembangan, maka cara terbaik adalah tetap di rumah.

Orang bisa saja menularkan virus meski mereka merasa sehat. Ini pula yang membuat orang mulai mengkritik imbauan CDC maupun WHO untuk mengenakan masker saat sakit. Kini, orang pun tak absen mengenakan masker untuk melindungi diri mereka dari penularan orang yang tanpa gejala.

Usia muda
Melansir dari Stat News, pada Februari 2020 otoritas kesehatan China merilis publikasi terkait statistik pasien covid-19. Ada lebih dari 44ribu kasus terkonfirmasi dan ‘hanya’ sekitar 1 persen anak-anak berusia 9 tahun ke bawah yang sakit. Tak ada satu pun dari mereka yang meninggal.

Sedangkan pada remaja, kasusnya juga terbilang jarang, hanya 1,2 persen. Ini kontras dengan kasus pada orang dewasa. Ada sebanyak 20 persen orang dewasa berusia 80 tahun ke atas yang terinfeksi dan meninggal.

Timbul dugaan bahwa mereka yang berusia muda berperan sebagai pembawa virus dan tanpa sadar menularkannya.

“Jika mereka terinfeksi, tak ada alasan untuk percaya bahwa mereka tidak akan menularkan,” ucap Malik Peiris, ahli virus corona di Hong Kong University mengutip dari Stat News.

Hiroshi Nishiura, ahli epidemi di Hokkaido University menyebut rasio infeksi tanpa gejala pada anak-anak lebih tinggi daripada orang dewasa. “Itu akan sangat mengubah ruang lingkup wabah, dan bahkan intervensi yang optimal dapat berubah, tulisnya dalam International Journal of Infectious Diseases mengutip dari South China Morning Post.

Kehilangan indera perasa
Mereka yang terinfeksi virus corona terutama yang tidak memiliki gejala yang tampak, bisa mengalami kehilangan kemampuan penciuman. Dalam dunia medis, ini disebut anosmia.

Menurut jurnal American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, anosmia dan dysgeusia (kehilangan kemampuan perasa) bisa untuk mengidentifikasi kemungkinan infeksi covid-19. Gejala seperti ini pun menuntut pertimbangan untuk dilakukan tes dan isolasi diri.

“Anosmia, secara umum, sudah terlihat pada pasien yang sudah dites positif corona tanpa gejala lainnya,” tulis peneliti dalam jurnal yang dikutip dari CNN. [***]

Sumber: CNNIndonesia

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News