Suksesi Kapolri, Pertarungan Mantan Ajudan

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Jenderal Badrodin Haiti

Jakarta, Jurnalsulteng.com – Kursi Kapolri mulai kembali menjadi titik sorot dan perhatian. Ini seiring akan berakhirnya masa bakti Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pada 24 Juli 2016. Saat itu, lulusan Akpol 1982 itu akan resmi memasuki usia 58 tahun atau memasuki usia pensiun.

Namun beredar kabar bila masa jabatan jenderal asal Jember, Jawa Timur itu, akan diperpanjang meski hingga kini belum pernah ada sejarah seorang kapolri yang memasuki pensiun lalu diperpanjang. Badrodin sendiri tidak mau terjebak dalam kabar itu.

Baca Juga:

”Itu diserahkan kepada Bapak Presiden (apa yang akan jadi keputusan),” kata Badrodin Selasa (24/5/2016). Namun sebelumnya, dia pernah menyatakan siap untuk diperpanjang dan juga siap untuk memasuki usia pensiun agar bisa mengemong cucu yang baru lahir.

Pasal 30 Ayat (2) UU Polri 2/2002 menyatakan,”Usia pensiun maksimum anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia 58 tahun dan bagi anggota yang memiliki keahlian khusus dan sangat dibutuhkan dalam tugas Kepolisian dapat dipertahankan sampai dengan 60 tahun.”
Ayat (3) menyatakan,”Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.”

Advertisements

Sementara Peraturan Pemerintah Nomor 1/2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri menyebutkan keahlian khusus dan sangat dibutuhkan dalam tugas Kepolisian meliputi bidang identifikasi, laboratorium forensik, komunikasi elektronika, sandi, penjinak bahan peledak, kedokteran kehakiman, pawang hewan, penyidikan kejahatan tertentu, dan navigasi laut/penerbangan.


9 Komjen

Andai tidak diperpanjang, ada sembilan jenderal bintang tiga atau Komjen yang siap menggantikan posisi Badrodin. Dari sembilan nama itu dua orang dipastikan terpental dari bursa calon kapolri. Keduanya adalah Kabareskrim Komjen Anang Iskandar yang telah memasuki masa pensiun dan akan diganti maksimal akhir bulan ini serta Kabaintelkam Komjen Noer Ali yang akan pensiun pada Oktober 2016.

“Saya hanya ingin tidur dan mimpi yang enak saja. Kerja juga yang bagus. Enggak mikir yang lain-lain‎,” kata Noer Ali saat ditemui di Hotel Borobudur Selasa (24/5).
Walhasil, nama-nama yang masuk bursa untuk memperebutkan kursi Tribrata 1 sesuai urutan angkatan Akpol adalah Irwasum Komjen Dwi Priyatno (Akpol 1982), Wakapolri Komjen Budi Gunawan (BG) Akpol 1983, lalu Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas) dan Kabaharkam Komjen Putut Eko Bayuseno. Dua nama terakhir merupakan Akpol 1984.

Selanjutnya juga ada dua Komjen dari Akpol 1985, yaitu Sestama Lemhanas Komjen Suhardi Alius dan Kalemdikpol Komjen Syafrudin serta terakhir adalah Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian yang merupakan Akpol 1987. Sebagai catatan, siapa pun pengganti Anang sebagai kabareskrim juga akan masuk dalam bursa calon kapolri.

Lebih dalam lagi, jika dibedah secara matematis, dari tujuh komjen itu, jika Presiden Joko Widodo memasang syarat calon kapolri harus bisa “dipakai” minimal dua tahun, maka nama Dwi, BG, dan Buwas otomatis akan rontok.

Dwi yang lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, akan pensiun pada 1 Desember 2017 atau akan “terpakai” hanya 1 tahun 4 bulan. Namun, faktor plus Dwi adalah dia pernah dua kali menjabat kapolda tipe A, yaitu sebagai kapolda Jawa Tengah (2013-2014) dan kapolda Metro Jaya pada 2014.
Syarat calon kapolri yang sudah pernah menjabat kapolda tipe A-K atau tipe A itu seolah menjadi syarat tak tertulis. Jadi pakem tersendiri. Sebagai refrensi, sebut saja empat kapolri belakangan ini.

Badrodin, angkatan Akpol 1982, pernah menjabat kapolda Sumut (2009-2010) dan kapolda Jatim (2010-2011). Badrodin menjabat kapolri setelah sebelumnya menjabat wakapolri.

Lalu, Jenderal Sutarman (Akpol 1981) pernah menjabat kapolda Jabar (2010), kapolda Metro Jaya (2010-2011), dan naik sebagai kapolri setelah sebelumnya menjabat kabareskrim.

Untuk Jenderal Timur Pradopo (Akpol 1978), sebelum jadi kapolri lewat jalur Kabaharkam, dia pernah menjabat kapolda Jawa Barat (2008-2010) dan Kapolda Metro Jaya (2010).

Itu pula yang dilakoni oleh Jenderal Bambang Hendarso Danuri (Akpol 74) yang sempat menjabat kapolda Sumatera Utara (2005-2006), lalu jadi kabareskrim hingga jadi kapolri.


Usia

Kembali pada soal usia, BG hanya akan aktif sampai 1 Januari 2018. Artinya “masa pakai” BG yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, jika dilantik sebagai kapolri setelah Badrodin pensiun hanyalah 1 tahun 5 bulan.

Namun ada hal lain dari BG yang pantas dijadikan catatan plus. Dia sebenarnya sudah terpilih sebagai kapolri dengan lolos fit and proper test di DPR pada 2015, namun tak pernah dilantik Jokowi karena sempat ditetapkan KPK sebagai tersangka.
Dia juga pernah menjabat kapolda tipe A sebagai kapolda Bali dan dikenal dekat dengan Megawati Soekarnoputri dan lingkar dalam PDIP. Itu karena BG pernah menjadi ajudan Megawati tatkala dia masih menjabat wapres hingga saat Megawati menjadi presiden.

Untuk Buwas, mantan kabareskrim yang digeser oleh Jokowi karena membuat gaduh itu hanya akan aktif selama 1 tahun 7 bulan sejak Badrodin pensiun. Buwas lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 19 Februari 1960 dan pensiun pada 1 Maret 2018.

Meski begitu faktor plus dari Buwas adalah saat menjabat sebagai kabareskrim, juga kepala BNN saat ini, banyak kasus kakap yang disikat. Namun, kelemahannya adalah tak pernah menjadi kapolda tipe A dan hingga kini belum juga melaporkan LPHKN-nya dengan alasan masih dihitung.

Advertisements

Berikutnya adalah Putut yang lahir di Tulungagung, Jawa Timur pada 28 Mei 1961 atau akan pensiun pada 1 Juni 2019. Dari sisi usia, Putut ideal karena dia punya masa aktif hingga tiga tahun.

Dia juga pernah menjabat kapolda tipe A sebanyak dua kali, yaitu kapolda Jawa Barat (2011-2012) dan kapolda Metro Jaya (2012-2014).

Putut tercatat pernah menjadi ajudan presiden di pemerintahan sebelumnya, yaitu sebagai ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Putut kini tak lagi punya “cantolan”.

Suhardi Alius sebenarnya juga ideal untuk duduk sebagai orang nomor satu di tubuh korps baju cokelat. Dari sisi usia, dia baru akan pensiun pada 1 Juni 2020 alias masih empat tahun lagi. Sayang, dia kini berada di luar struktur Polri dan “disingkirkan” dengan tuduhan tidak enak, yaitu sebagai pengkhianat, tatkala BG dijadikan tersangka oleh KPK.

Padahal, Suhardi juga punya latar belakang sebagai kapolda tipe A karena pernah menjabat sebagai kapolda Jabar pada 2013 lalu. Dia juga pernah melayani kapolri Sutanto dan BHD sebagai koorspri atau ajudan.

Andai jadi kapolri, Suhardi juga akan membuat sejarah tertulis berulang, karena sering kali kapolri berdarah Jawa atau Sunda, sementara dia berdarah Minang sama seperti Kapolri Awaluddin Djamin dahulu.

Berikutnya, untuk ukuran “masa pakai” sebelum pensiun, Komjen Syafruddin juga tergolong panjang. Dia lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 14 April 1961. Artinya dia baru pensiun pada 1 Mei 2019 atau sekitar tiga tahun lagi. Tahun 2019 ada hajat besar yang diselenggarakan, yaitu Pemilu Presiden/Wapres yang digelar serentak berbarengan dengan Pemilu Legislatif untuk pertama kali. Urusan keamanan soal pemilu tentu ada di pundak polisi.

Syafrudin juga dikenal dekat dengan kekuasaan saat ini, karena dia merupakan mantan ajudan Jusuf Kalla (JK) pada 2004-2009 saat JK mendampingi Presiden SBY. Sayangnya jenderal bintang tiga ini terhitung minus jika diukur dari urusan pernah menjabat kapolda tipe A. Dia hanya pernah menjabat kapolda tipe B di Kalimantan Selatan.

Terakhir adalah figur Tito Karnavian yang paling junior. Tito, kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, baru akan pensiun pada 1 November 2022 alias masih enam tahun lagi. Jika dipaksakan menjadi kapolri saat ini, maka masa pakai Tito justru terlalu panjang dan dia dipastikan sudah akan kehilangan job sebagai kapolri saat masih aktif sebagai polisi. Hampir tidak mungkin Tito menjadi kapolri saat ini. Peluang Tito sebagai kapolri masih terbuka lebar kelak setelah era kapolri pengganti Badrodin.

Tito juga pernah menjabat kapolda tipe A di Papua (2012-2014) dan kapolda Metro Jaya (2015-2016). Dia juga merupakan lulusan terbaik atau penerima Adhi Makayasa Akpol 1987.

Sebagai perbandingan, di TNI, hingga saat ini pun belum ada lulusan Akmil 1987 yang berpangkat bintang tiga alias letnan jenderal. Angkatan 1987 di TNI rata-rata masing berpangkat brigjen. Namun, terselip nama Mayjen Andika Perkasa, mantan Danjen Paspampres, yang baru saja dipromosikan menjadi pangdam Tanjung Pura dan Danjen Kopassus, Mayjen Muhammad Herindra.

Soal tahun angkatan ini memang perlu dicermati, karena kapolri, para kepala staf, dan Panglima TNI–yang ke semuanya berpangkat sama, jenderal bintang empat–selalu hampir sama. Sebut saja saat ini Badrodin Haiti dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang sama-sama berasal dari akademi tahun 1982. Lalu, Kasad  Jenderal TNI Mulyono, Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna, dan Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, merupakan lulusan akademi tahun 1983 atau rekan seangkatan BG.

Terkait calon pengganti Badrodin, Dwi Priyatno mengaku hingga kini belum ada rapat Wanjakti (Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi) terkait siapa yang akan dijadikan kapolri. Menurutnya proses ini akan dilakukan setelah proses pemilihan kabareskrim selesai.

“Belum dimulai. Masih menunggu perintah Pak Kapolri,” kata Dwi Selasa (24/5/2016). Namun, saat ditanya peluangnya jadi kapolri, dia berujar,”Saya serahkan saja kepada Yang di Atas. Kita bekerja sebaik-baiknya.”

Wanjakti untuk posisi kapolri, secara normatif akan dipimpin oleh wakapolri dengan anggota, di antaranya Irwasum, Kalemdikpol, Kabaharkam, Kabaintelkam, Kadiv Propam, Asisten SDM, dan Asrena. Kapolri sendiri akan bertindak sebagai pengawas.

Anggota Kompolnas Poengky Indarti yang dihubungi secara terpisah mengatakan hingga kini pihaknya juga masih menunggu langkah Wanjakti.

“Belum ada pembahasan. Kami menunggu Wanjakti. Kalau Wanjakti sudah memberikan rekomendasi pada presiden, barulah presiden akan meminta masukan dari Kompolnas. Apa pun keputusan final ada di presiden,” tambah aktivis lulusan Brawijaya, Malang ini.(***)

Advertisements

Source; Beritasatu

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News