TEBUS GADAI [Mengenang Pak Muladi]

  • Whatsapp
Prof Muladi.
Bagikan Artikel Ini

Oleh: Joko Intarto
Saya nyaris lupa kalau teman saya tidak mengingatkan untuk mengambil ijazah yang saya ‘gadaikan’ di kampus. Tidak terasa sudah tahun 2001. Berarti sudah 10 tahun ijazah saya tersimpan di sana.

Saya masih penasaran. Sampai sekarang. Apakah penerima ijazah harus bertanda tangan pada bagian foto dirinya di lembar tanda kelulusan itu? Semua dokumen ijazah saya: SD, SMP, SMA, semua saya bubuhi tanda tangan.

Baca Juga

Dari dokumen-dokumen lawas itu saya tahu: Tanda tangan saya ternyata berubah-ubah. Saat lulus SD dengan lulus SMP saja berbeda 180 derajat. Apalagi kalau saya bandingkan dengan tanda tangan saya saat ini. Sama sekali tidak nyambung.

Satu-satunya ijazah yang tidak saya tanda tangani adalah ijazah sarjana itu. Terus terang saya tidak tahu.

Juga tidak pernah berusaha mencari tahu: Apakah penerima ijazah tidak perlu tandatangan? Atau, itu karena kelalaian saya karena mengambilnya sudah terlambat 10 tahun?

Saya memang baru mengambil ijazah dari kampus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro 10 tahun setelah wisuda. Sudah sangat terlambat. Saya ambil ijazah itu di kantor tata usaha di sela-sela liputan berita di Semarang.

Beberapa kali sebelumnya, ada niat libur. Khusus untuk ke Semarang mengambil ijazah itu. Namun niatnya kurang bulat. Saya selalu teringat pada dialog dengan Pak Dahlan Iskan waktu usia kerja saya baru seminggu. Setiap ingat ucapan Pak Dahlan itu, selalu saya batal ke Semarang.

Ada dua masalah yang saya hadapi pada awal bekerja di kantor Jawa Pos Surabaya. Pertama bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup di Surabaya dengan uang terbatas. Kedua bagaimana caranya agar liputan saya bisa terbit menjadi berita.

Untuk bisa bertahan dengan dompet tipis, satu-satunya cara adalah mencari yang gratis-gratis. Makan gratis. Tidur gratis.

Maklum, gaji pertama akan dibayar pada akhir bulan. Saya hanya mengandalkan biaya hidup dari hasil penjualan mesin ketik Brother, satu-satunya kekayaan tersisa semasa kuliah yang bisa saya jual.

Dari 11 wartawan baru, ada dua orang yang asli Surabaya: Yono dan Andung. Yono asli dari Karah.

Rumahnya sekitar 800 meter dari kantor Jawa Pos. Andung tinggal di kompleks Kodam Brawijaya, sekitar 3 kilometer dari kantor Jawa Pos. Kedua-duanya menawarkan tempat menginap sementara sampai kelak mendapat kos-kosan.

Beberapa hari pertama, saya menginap di rumah Yono.

Berita Terkait

Google News