Tingkatkan Perdamaian Jelang Pemilu, Polres Tolitoli Libatkan Ulama

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Kepolisian Resort Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng), melibatkan Ketua MUI Palu Prof. H. Zainal Abidin untuk meningkatkan perdamaian di daerah itu menjelang pesta demokrasi 2019 mendatang.

Pelibatan salah satu tokoh pembaharuan dalam Islam Professor Zainal Abidin oleh Polres Tolitoli, dilakukan lewat kegiatan tabligh akbar yang mengusung tema ‘Dengan merajut perdamaian kita wujudkan pesta demokrasi 2019 dan Tolitoli damai’, yang diikuti 5.000 masyarakat daerah itu, Sabtu (28/7/2018).

Baca Juga

“Perdamaian menjadi kunci terpenting menentukan kualitas pesta demokrasi,” ucap Prof. Zainal Abidin, di Palu, Minggu (29/7/2018).

Rois Syuria Nahdlatul Ulama (NU) Sulteng ini mengemukakan umat beragama harus terlibat dan aktif mengingatkan satu sama lain tentang pentingnya perdamaian.
Pesan-pesan yang berbau kedamaian, ketentraman merepresentasikan keimanan setiap orang yang beragama. Hal itu karena, menentramkan, memberikan kenyamanan, kedamaian, merupakan salah satu dari anjuran agama.

“Agama menjadi instrumen yang mengantar orang menuju kedamaian, ketentraman dan kenyamanan. Bukan sebaliknya,” ujar Rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu menguraikan terdapat beberapa poin penting yang perlu di perhatikan dalam rangka mewujudkan perdamaian dan ketentraman di kehidupan sosial.

Pertama, sebut dia, setiap orang/individu harus menghormati perbedaan yang ada, bahwa perbedaan merupakan ketentuan tuan yang tidak dapat diintervensi oleh manusia.

“Perbedaan agama, suku RAS, dan segalanya yang terjadi, merupakan kehendak Tuhan. Bukan kehendak manusia, karena itu sebagai seorang yang beragama harus menghormati perbedaan itu,” sebut Zainal Abidin.

Kedua, jangan berprasangka buruk kepada seseorang atau kepada sekelompok orang, karena prasangka yang buruk dapat melahirkan fikiran dan tindakan yang buruk. Dengan begitu maka persaudaraan antarsesama manusia dalam kehidupan sosial akan putus bila diwarnai dengan prasangka buruk.

ketiga, tidak boleh mengklaim bahwa faham dan aliran serta pendapat dari yang lahir dari seseorang atau sekelompok menjadi kebenaran mutlak, sehingga yang lain dianggap salah bila tidak sependapat.

“Perbedaan mazhab, aliran dan faham, serta perbedaan lainnya tidak terlepas dari ketentuan Tuhan. Karena itu harus dihormati, tidak boleh memonopoli kebenaran,” urai dia.

Lebih lanjut dia menyampaikan pesan kepada umat Islam yang hadir pada kegiatan itu bahwa ‘Dalam satu dunia, kita berbeda bangsa dan negara.

Dalam satu bangsa dan negara, kita berbeda suku bangsa.Dalam satu suku bangsa, kita berbeda keyakinan dan agama. Dalam satu keyakinan dan agama, kita berbeda paham dan aliran. Dalam satu paham dan aliran, kita berbeda pemahaman. Dalam satu pemahaman, kita berbeda pengalaman. Dalam satu pengalaman, kita berbeda penghayatan. Dalam satu penghayatan, kita berbeda keikhlasan. Dalam satu keikhlasan kita rawat kebhinekaan, kita mantapkan keberagaman.

Tabligh akbar satuan tugas nusantara Polres Tolitoli juga menghadirkan penceramah ustad Muh Sopyan Mardani dan ustad Ujang itu dihadiri oleh sejumlah petinggi kepolisian seperti Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sulteng, Kapolres Tolitoli dan jajarannya, Wakil Bupati Tolitoli, Ketua DPRD Tolitoli, tokoh agama, masyarakat dan tokoh adat. [***]

 

Penulis; Ahmad

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News