Tolak Danau Poso Dikeruk, Warga Sambut Wapres JK dengan ‘Montibu’

Bagikan Artikel Ini

Poso, Jurnalsulawesi.com – Sekira 60 warga dari desa-desa di pinggiran Danau Poso yang tergabung dalam Aliansi Penjaga Danau Poso melakukan tradisi Montibu, yakni memukul-mukul air menggunakan tongkat bambu dari atas perahu untuk menangkap ikan. Namun aksi kali ini bukan untuk menangkap ikan, tetapi mengingatkan warga, para petinggi negara dan daerah ini untuk menjaga danau Poso dari ancaman kerusakan.

Aksi budaya ini dilakukan bertepatan dengan kunjungan kerja Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (sulteng), Rabu (25/7/2018) sekira pukul 13.00 Wita. Aksi ini juga sebagai bentuk penolakkan rencana pengerukkan mulut Danau Poso sedalam dua sampai tiga, selebar 40 meter, sepanjang 12,8 kilometer untuk kepentingan memutar turbin air milik PT. Poso Energy, salah satu perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla.

Baca Juga

Warga memulai aksinya dengan menggunakan perahu yang dilengkapi bendera dengan hastag #Penjaga Danau Poso, mulai dari lokasi situs Watu Mpangasa Angga menuju jembatan tua Pamona dengan diiringi musik khas Poso, Karambanga. .

Sepanjang perjalanan yang berjarak sekira 2,5 kilometer itu, rombongan yang dipimpin Yanis Moento itu meneriakkan Oohaiyo, yang dijawab dengan seruan Pakaroso terus terdengar, sembari memukul (Montibu) air.

Aksi Montibu bertepatan dengan dua momen besar, yang pertama kedatangan Wakil presiden Jusuf Kalla dan kedua konvensi pendeta GKST yang dipusatkan di Banua Pogombo, yang terletak di pinggir danau Poso.

“Saya bangga. Saya terharu, masyarakat menyambut aksi kita begitu antusias. Ini artinya mereka mendukung kita. Namun ini bukan aksi terakhir, kita masih akan terus berjuang dengan jalan kebudayaan untuk mempertahankan danau kita,” kata Yanis Moento.

Menurut Panca, anggota Aliansi Penjaga Danau Poso, Montibu kali ini juga mengingatkan masyarakat, pentingnya menjaga tradisi-tradisi warisan leluhur yang membuat danau Poso tetap bertahan seperti saat ini.
BACA JUGA: ‘Poso River Improvement’ Lenyapkan Kearifan Lokal

Setelah Montibu, sekira Pukul 16.00 Wita, para peserta kembali melanjutkan aksinya dengan berjalan kaki melintasi beberapa titik di Kelurahan Pamona dan Sangele.

Dari kawasan Yosi, peserta berjalan berpasangan sambil membawa bendera #Penjaga Danau Poso, menuju ke jembatan tua Pamona, ke taman kota, lalu kembali ke Yosi. Sambil berjalan peserta membagi-bagikan kartu dukungan bagi gerakan pelestarian Danau Poso kepada masyarakat yang mereka temui.

Penolakan pengerukan Danau Poso ini dilakukan karena dinilai akan menghilangkan beberapa tradisi yang ada, diantaranya tradisi Waya Masapi alias alat tangkap Sidat yang sudah dikenal masyarakat Pamona sejak ratusan tahun.

Kemudian akan menghilangkan tradisi Monyilo, yakni menombak ikan pada malam hari, karena tradisi tersebut dilaksanakan di area yang akan dikeruk.

Tradisi selanjutnya yang juga akan tamat adalah Mosango, yakni menangkap ikan beramai-ramai menggunakan alat yang terbuat dari rajutan lidi enau atau bambu yang diikat dengan rotan bernama Sango. “Tradisi ini dilakukan di tempat ikan-ikan datang ke pinggir danau saat air naik, yang kemudian terjebak saat air turun,” kata Yanis Moento.

Rencananya, pengerukan ini akan dibarter oleh perusahaan dengan Pemerintah Kabupaten Poso yang mendukung pengerukan ini, dengan dibangunkan taman air di kawasan seluas 26 hektar. Sementara, lokasi taman merupakan pelaksanaan tradisi Mosango yang bernama Kompo Dongi.

Selain itu, pengerukkan ini juga akan menghilangkan mata pencaharian warga penambang pasir tradisioal di Kelurahan Petirodongo. [***]

 

Penulis; Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News