Trending di Twitter, Rektor UI Jadi Bahan Lelucon

  • Whatsapp
Rektor UI Ari Kuncoro.
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menjadi trending topik di Twitter, pada Rabu 21 Juli 2021.

Hingga berita ini dilansir, lebih dari 81 ribu pengguna Twitter memberikan cuitan mengenai Rektor UI. Hal ini dipicu oleh perubahan peraturan Statuta UI yang mengizinkan Rektor untuk merangkap jabatan.

Baca Juga

Pada peraturan sebelumnya, Rektor UI dinilai melakukan pelanggaran rangkap jabatan sebagai Rektor UI sekaligus komisaris BUMN.

Ironisnya, bukan Ari Kuncoro yang mendapat saksi karena melanggar peraturan tersebut, melainkan peraturan tersebut itulah yang direvisi.

Warganet pun riuh karena seolah-olah rektor UI Ari Kuncoro sakti, karena ia bisa mengubah peraturan yang dilanggarnya pada Statuta UI. Kesaktian Rektor UI ini pun menjadi bahan lelucon warganet.

Berikut beberapa tweet lucu warganet mengenai Rektor UI yang dirangkum JurnalNews.id.

“Dari kemarin baca ttg Rektor UI ngakak mulu. Sbnarnya malu juga krn gimanapun dulu sy jg pernah pke JAKUN. Btw, jgn2 klo rektor UI yg salah mahasiswanya yg mundur ?,” cuit akun @Hilmi28.

“Mau bagi GA lagi ah. Tentang rektor UI aja ya. Yang bikin postingan paling lucu akan menang. Ada 5 pemenang masing2 100 ribu. Pemenang akan diumumkan besok. Dipilih acak pemenangnya.
@dayatia kalau mau ikutan boleh ikutanWajah menyeringaiWajah menyeringai,” cuit akun @panca66.

“Rektor UI berenang di Laut Mati. Lautnya jadi hidup,” cuit akun @inisifanew.

“Rektor UI pingin masuk timnas U-23, batasan umur diubah,” cuit akun @GundiDr.

“Rektor UI naik mobil hampir nabrak pagar. Pagarnya geser sendiri,” tulis warganet.

“Rektor UI lewat perlintasan Kereta Api.. Kereta apinya yang berhenti,” tambah yang lain

“Rektor UI melanggar aturan, aturannya yg minta maaf,” sambung lainnya.

“Rektor UI kalau nerobos lampu merah, aturannya langsung diubah, lampu ijo jadi berhenti, merah jadi jalan,” tutur warganet.

“Rektor ui melanggar hukum gravitasi, Issac newton pun bangkit dari kubur untuk merevisi teorinya,” kata warganet.

“Rektor UI kepanasan. Mataharinya yg redup sendiri,” tulis yang lain.

“Rektor UI minum soda gembira, soda nya langsung sedih,” cuit warganet.

“Rektor UI divaksin, vaksinnya yang meriang,” kata warganet.

Kritik Keras
Selain jadi bahan olok-olok oleh warganet, perubahan aturan soal Statuta Universitas Indonesia (UI) yang tak lagi melarang rektor rangkap jabatan jadi sorotan sejumlah akademisi.

“Problem utama terkait dengan kasus Rektor UI adalah bagaimana aturan hanya bersifat prosedur tanpa makna. Semakin menguatkan keyakinan bahwa ada invisible hand yang jauh lebih berkuasa dari aturan yang ada di sekitar kita. Ini sekali lagi akan membuat rakyat hilang kepercayaan,” kata Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Prof Firman Noor, Rabu 21 Juli 2021.

Kontroversi perubahan Statuta UI ini memang kian luas. Firman memandang tak hanya bisa menghilangkan kepercayaan rakyat, perubahan Statuta UI itu juga bisa kian menguatkan pandangan miring terhadap penguasa.

“Dan makin menguatkan pandangan bahwa segalanya mungkin dan boleh manakala terkait dengan kepentingan kaum penguasa,” ujar pria yang juga mengajar di UI ini.

Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengubah Statuta UI sebagai langkah yang ngawur. Dia heran aturan diubah demi mengakomodasi pelanggaran.

“Pemerintah ngaco, pejabat melanggar aturan kok aturannya yang diubah,” kata Ubedilah kepada wartawan, Rabu 21 Juli 2021.

Perubahan statuta itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 75 Tahun 2021 tentang Statuta UI. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2013 tentang Statuta UI, Rektor UI dilarang menjadi komisaris BUMN. Pasal 35 (c) menyebutkan bahwa rektor dan wakil rektor dilarang merangkap jabatan di BUMN/BUMD ataupun badan usaha swasta.

“Saya makin terkejut dengan fenomena ini, makin meyakinkan saya betapa ngaconya pemerintahan ini, makin tidak layak dilanjutkan karena makin keliru langkah,” ujar Ubedilah.

Hal yang dimaksud Ubedilah adalah soal rangkap jabatan Rektor Universitas Indonesia (UI). Hal itu terungkap setelah Rektor UI menegur BEM UI yang memberikan label kepada Presiden sebagai The King of Lip Service. Terungkap bahwa Rektor UI ternyata melanggar PP tentang statuta UI.

“Secara administratif dan kebijakan publik ini aneh, publik menolak rangkap jabatan seorang rektor yang merangkap komisaris agar fokus membenahi dan memimpin kampus. Statuta juga melarangnya, eh malah bukan rektor UI nya yang melepaskan jabatan Komisaris, namun justru aturannya yang diubah. Ini maknanya pemerintah yang melegalkan statuta UI menjadi PP berkontribusi besar membuat kebijakan yang justru berlawanan dengan aspirasi publik,” papar Ubedilah yang dikutip detik.com. ***

Berita Terkait

Google News