Tujuh Fakta Reynhard Sinaga, Predator Seks Asal Indonesia di Inggris

  • Whatsapp
Reynhard Sinaga, mahasiswa asal Indonesia pelaku pemerkosaan terhadap 159 pria di Manchester, Inggris. [The Guardian]
Bagikan Artikel Ini
  • 100
    Shares

JurnalNews.id – Pria asal Indonesia Reynhard Sinaga membuat heboh Inggris terkait kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap ratusan korban sesama jenis di Manchester.

Pria kelahiran Jambi tahun 1983 itu beraksi dengan terlebih dulu mengajak korbannya ke flat lalu membuat mereka tak sadarkan diri menggunakan obat bius.

Baca Juga

Aksi tersebut dilakukan Reynhard selama 2,5 tahun, yakni dari Januari 2015 sampai Juni 2017, sebelum ditangkap Kepolisian Greater Manchester.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut tujuh fakta kasus pemerkosaan Reynhard Sinaga:

Advertisements

1. Mahasiswa S3, Tinggal di Inggris sejak 2007
Dia diketahui berasal dari keluarga kaya yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Setelah memperoleh gelar dalam bidang teknik arsitektur pada 2007, dia berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi perencanaan kota di Universitas Manchester. Raynhard melanjutkan studi untuk mendapatkan tiga gelar di sana, sebelum memulai program S3 di bidang geografi manusia di Universitas Leeds.

Berasal dari keluarga kaya raya membuat Reynhard hidup tanpa beban ekonomi, meski mengaku pernah bekerja di perhotelan dan di klub sepakbola Manchester, serta di sebuah toko pakaian.

2. Kasus Pemerkosaan Terbesar dalam Sejarah Hukum Inggris
Wakil Kepala Jaksa Penuntut Pengadilan Manchester Ian Rushton mengatakan, Reynhard merupakan pemerkosa paling produktif dalam sejarah hukum Inggris.

Sejauh ini dia sudah terbukti untuk 159 pelanggaran. Masih ada setidaknya 70 korban lain yang belum teridentifikasi.

Dalam sidang pada Senin (6/1/2020), Reynhard dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan waktu minimal 30 tahun.

Namun ini bukan sidang pertama. Ternyata Reynhard sudah menjalani 88 hukuman seumur hidup serta minimal 20 tahun penjara sebelum mendapat pertimbangan pembebasan bersyarat dalam dua persidangan pada 2018 dan 2019. Kasus ini terkait dengan 25 korban.

Untuk sidang terbaru, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup terkait dengan 23 korban lainnya. Dengan demikian, dia sudah menjalani sidang untuk 48 korban.

3. Tak Ada Rasa Penyesalan
Meski divonis penjara seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris, Reynhard justru tidak menyesal sedikitpun.

Polisi yang memeriksa Reynhard menyebut Reynhard tidak memiliki empati dan simpati saat diperiksa oleh kepolisian Manchester. Reynhard juga terlihat menyeringai saat dihadirkan di persidangan kasusnya, Raut wajahnya tanpa emosi dan malah tampak bosan sepanjang vonis dibacakan hakim.

Perilaku Reynhard lainnya adalah dia juga sempat menguap dan bermain-main dengan rambutnya yang sudah gondrong selama sidang digelar. Sikapnya dalam persidangan tidak menampilkan tanda adanya penyesalan.

Hakim Goddard dalam putusannya menyebut Reynhard tampak tidak menunjukkan ‘sedikitpun penyesalan’ atas kasus yang menjeratnya.Salah satu korbannya bahkan menggambarkan Reynhard sebagai seorang ‘monster’.

4. Merekam Aksinya di Ponsel hingga 3,29 Terabyte
Kepolisian Greater Manchester menemukan barang bukti berupa rekaman pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan Reynhard terhadap para korban. Dia merekam menggunakan dua ponsel iPhone dalam kondisi korban tak sadarkan diri.

Total kapasitas video rekaman pemerkosaan dan pelecehan berkapasitas 3,29 terabyte atau setara dengan 250 DVD atau 300.000 foto. Satu rekaman ada yang durasinya mencapai 8 jam.

Advertisements

5. Umbar Foto Korban di Grup WhatsApp
Dalam persidangan yang digelar, Reynhard Sinaga terungkap ternyata sempat berbagi informasi soal aksinya tersebut dalam sebuah grup WhatsApp.

Namun, anggota dalam grup itu tidak menyangka bahwa tindakan yang dilakukan pria jebolan Universitas Manchester itu adalah pemerkosaan.

Alasannya, seperti dikutip dari beberapa sumber, Selasa (7/1/2020), Reynhard Sinaga hanya berbagi kisah dirinya bertemu dengan pria yang menjadi pasangan kencannya, tapi belakangan diketahui mereka adalah korban pemerkosaan.

Salah satu percakapan menunjukkan dia sempat berkata pada teman-temannya bahwa dirinya akan hidup sendirian. Pesan itu lantas dibalas seorang teman bahwa dia akan menemukan seseorang (pasangan) pria heteroseksual.

6. Obat Bius Khusus untuk Menaklukkan Korban
Dalam satu kasus, Reynhard hanya memerlukan 60 detik untuk mendapat sasaran pria muda. Korbannya kebanyakan mahasiswa berusia belasan hingga awal 20 tahunan.

Pada awal persidangan, Reynhard menyanggah telah memerkosa dengan mengatakan hubungan seksual dilakukan atas dasar suka sama suka. Namun bukti di pengadilan menunjukkan para korban digauli dalam kondisi tidak sadar.

Reynhard diketahui menggunakan obat bius GHB (gamma hydroxybutyrate) untuk membuat korbannya tidak sadar.

GHB merupakan cairan bening atau bubuk tak berbau. Menurut pakar forensik dan toksikologi
yang dihadirkan di pengadilan, Simon Elliott, selain memiliki efek membuat korban tak ingat dan tertidur pulas, obat ini juga juga mengendurkan tubuh.

Kondisi tubuh yang kendor memudahkan hubungan seksual dilakukan melalui dubur.

Para pakar juga mengungkap, gejala yang ditunjukkan para korban konsisten dengan ciri-ciri keracunan GHB. Namun aparat tidak menemukan jejak obat bius di apartemen Reynhard.

Obat itu awalnya diproduksi untuk tujuan medis, namun saat ini dikategorikan sebagai obat terlarang karena mudah larut dalam cairan.

7. Sebutan untuk Reynhard Sinaga, dari ‘Peter Pan’ sampai ‘Monster’
Istilah Peter Pan muncul dari dari seorang perempuan yang mengenal dekat Reynhard. Perempuan itu mengatakan, Reynhard merupakan orang yang tampak bersahabat dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Reynhard disebut sebagai Peter Pan karena wajahnya lebih muda dari usianya. Perempuan itu juga mengatakan Reynhard sosok yang narsis dan polos.

Sementara itu seorang hakim menggambarkan Reynhard sebagai “monster” yang melakukan serangan seksual terhadap setidaknya 190 pria setelah membius mereka.

“Salah satu korban menggambarkan Anda (Reynhard) sebagai monster, karena skala kejahatan yang Anda lakukan mengukuhkan gambaran tersebut,” kata hakim.

Hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk empat kali persidangan melibatkan 48 korban. Sidang perdama digelar pada 2018 dan 2019 untuk 25 korban dan pada Januari 2020 untuk 23 korban lainnya. [***]

Advertisements

Editor; Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News