Tuntut PLTU, Warga Empat Kelurahan Blokir Jalur Trans Sulawesi

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Ribuan warga dari empat kelurahan di Kecamatan Tawaeli menuntut penutupan PLTU Panau dengan memblokir jalur Trans Sulawesi, Senin (22/1/2018). Pemblokiran satu-satunya akses ke luar Kota Palu ini dimulai sekira Pukul 08.00 Wita.

Aksi yang dilakukan warga dari Kelurahan Lambara, Panau, Baiya dan Kayu Malue ini sebagai bentuk protes terhadap PLTU, karena tidak ramah lingkungan. Bahkan, pihak PT Palu Pusaka Jaya Power (PJPP) sebagai pengelola PLUT Panau juga tidak mengakomodir tuntutan masyarakat yang telah disampaikan sebelumnya dalam beberapa forum.

Baca Juga

Aksi pemblokiran itu menyebabkan kemacetan panjang, baik dari arah luar kota menuju Kota Palu, maupun sebaliknya. Seluruh kendaraan baik roda empat maupun roda dua tidak bisa menembus kerumunan warga.

Massa juga memblokir satu-satunya jembatan penghubung dengan ranting pohon dan kendaraan roda empat sambil terus berorasi.

Setiap kendaraan yang akan melintas langsung dicegat massa. Mereka tidak mengizinkan akses itu dibuka sebelum PT Palu Pusaka Jaya Power (PJPP) merespon tuntutan mereka.

Hasil pantauan di lapangan, beberapa mobil nekat menyeberangi sungai Lambara untuk bisa melanjutkan perjalanan. Karena nekat, beberapa mobil yang tertahan di sungai Lambara itu.

Koordinator aksi, Amrullah menyebut jika tuntutan itu tidak diindahkan maka warga akan mengambil tindakan yang dianggap perlu.

Semua kendaraan baik roda dua maupun roda empat tdak dapat menembus kerumunan warga. [Ist]
Warga menuntut agar PT PJPP melakukan penggusuran dan meratakan timbunan limbah bahan beracun berbahaya berupa fly ash dan bottom ash di bantaran sungai Tawaeli agar sama dengan timbunan abrasi sungai.

Warga juga mendesak PLTU tidak memproduksi limbah baru selama penggusuran limbah yang lama belum dituntaskan. Tidak menggunakan bantaran sungai Tawaeli untuk menimbun Fly Ash dan Bottom Ash sesuai putusan MA RI nomor 1199 L/pid.sus 2016. Bahwa putusan ini PT PJPP telah dihukum percobaan selama dua tahun dan melanggar garis sempadan sungai yang dilindungi Perda Kota Palu.

Selain itu, warga memdesak agar PLTU menutup timbunan limbah Fly ash dengan Plastik Geo Membran sesuai kesepakatan PLTU dan Pemkot Palu Tahun 2016 lalu.[***]

Rep; Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News