Upaya Bebaskan Buaya Terlilit Ban, dari Sayembara sampai Panggil Panji Petualang

Buaya berkalung ban di sungai Palu. [Ist/FB]
Bagikan Artikel Ini
  • 350
    Shares

Palu, JurnalNews.id – Kemunculan seekor buaya berkalung ban di sungai Palu sejak 2016 lalu, menyita perhatian warga. Sejak itu, Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) telah mencoba untuk menyelamatkan dan melepaskan ban dari leher buaya tersebut.

Beberapa usaha di antaranya dengan jala yang diberi pemberat dan menggunakan kerangkeng. Namun, upaya itu tak berhasil.

Baca Juga

Memuat...

 

Bahkan, Panji petualang pernah mencoba menangkap dan melepaskan kalung ban dari buaya tersebut. Sayang, upaya itu juga gagal dilakukan.

Pada 2020 ini, BKSDA kemudian mengeluarkan sayembara untuk melepaskan ban di leher buaya.

“Makanya sayembara itu kami buat. Barang siapa yang mampu mengeluarkan ban dari leher buaya itu akan mendapat hadiah yang setimpal. Tapi tidak ada DP, cash. Begitu keluar langsung bayar dengan mendapatkan penghargaan dari BKSDA,” kata Kepala BKSDA Hasmuni Hasmar kepada wartawan, belum lama ini.

Hasmuni tak menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk sayembara itu.

Namun, sayembara itu akhirnya dihentikan karena sepi peminat.

Setelah upaya sayembara gagal, BKSDA memutuskan membentuk satgas yang di dalamnya terdiri dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah serta tim dari KKH Jakarta.

Satgas ini dibentuk untuk melepaskan ban yang ada di leher buaya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah Haruna sekaligus Ketua Satgas mengatakan, upaya melepaskan ban di leher buaya tidak akan menggunakan tembakan bius.

“Kami menggunakan harpun (sejenis tombak). Cuma kendala ombak besar dan buayanya timbul tenggelam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, sehingga menyulitkan teman-teman menggunakan alat itu,” kata Haruna, seperti dikutip Kompas.com.

Harpun yang digunakan BKSDA dibuat lebih aman dan tidak mematikan. Alat itu lebih aman ketimbang tembakan bius.

Bius lebih berisiko karena ketika terkena tembakan bius, buaya akan kaget dan masuk ke dalam air.

“Kalau sudah masuk ke dalam air, tim kita akan mengalami kesulitan untuk mengambil buaya berkalung ban, karena banyak juga buaya lain di sungai Palu itu. Dan dipastikan buaya berkalung ban bisa mati,” kata Rino, salah satu tim Satgas buaya berkalung ban, Jumat (7/2/2020).

 

Upaya penyelamatan yang dilakukan BKSDA Sulteng bersama BKSDA NTT, Polairud Polda Sulteng serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memasuki hari ke dua pada Jumat (7/2/2020). Tim operasi melakukan pengintaian kemunculan buaya tersebut di sekitar Jembatan Palu II.

Sang buaya sempat menampakkan diri di sekitar bongkahan bangunan yang terletak di tengah sungai tersebut. Namun begitu petugas datang, dengan perlahan buaya itu kembali menyelam di dalam air.

Tim gabungan dengan sabar menunggui kemunculan kembali buaya itu, dan benar adanya, hanya selang beberapa waktu saja, kepala buaya itu muncul dan dengan sigap salah seorang petugas menombakkan harpun-nya ke tubuh buaya dan sempat mengenai punggung buaya, namun terlepas lagi buaya berhasil melarikan diri.

Upaya lain pun dilakukan dengan memasang jaring dengan cara dibentangkan untuk melokalisir pergerakan buaya. Jaring dipasang melingkar ke gundukan sisa bangunan yang berada di sungai, namun buaya kembali berhasil lolos dan menjauhi jaring.

Buaya beeberapa kali muncul dengan timbul tenggelam. Setiap petugas berupaya mendekat, buaya itu tenggelam lagi. Bahkan, salah satu petugas berupaya memberikan umpan berupa seekor bebek dengan cara melemparkannya ke arah buaya sembari kaki bebek diikat dengan tali.

Umpan seekor bebek tersebut ternyata tidak membuat buaya tergoda untuk menampakkan dirinya dan tetap bersembunyi di dalam air.

Hingga pukul 18.00 Wita, upaya penangkapan untuk melepaskan lilitan ban di leher buaya tersebut belum membuahkan hasil.

Upaya penangkapan buaya yang dilakukan tim gabungan itu juga menjadi tontonan ratusan warga yang memadati bibir sungai Palu.

Petugas gabungan yang berupaya menangkap buaya untuk melepaskan lilitan ban di lehernya, Jumat (7/2/2020). [Ist/FB]

Populasi
Pasca-bencana alam, BKSDA belum mendata kembali soal populasi buaya yang ada di sungai Palu.

Namun, sebelum gempa pada September 2018, tercatat buaya di sungai Palu ada 37 ekor.

Saat ini diperkirakan jumlahnya semakin bertambah. Hingga kini, upaya penyelamatan buaya berkalung ban masih terus dilakukan.

Tim mengaku kesulitan jika posisi buaya berada di muara karena arus yang cukup kencang.

“Kita mencoba menggiring buaya ke posisi jauh dari muara. Itu akan memudahkan kita bekerja,” ujar Haruna. [***]

Editor; Sutrisno

loading...

Berita terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA