Warga Libanon Marah, Korban Tewas 135 Orang dan 300 Ribu Kehilangan Tempat Tinggal

  • Whatsapp
Bekas ledakan yang terjadi di Beirut, Libanon, Selasa (4/8/2020). [Foto: Twitter]
Bagikan Artikel Ini
  • 152
    Shares

Beirut, JurnalNews.id – Kemarahan publik terhadap pemerintah Libanon pecah setelah investigasi awal mencium faktor kelalaian pejabat turut menyebabkan ledakan besar di Kota Beirut pada Selasa (4/8/2020) petang.

Dilansir AP, penyelidikan awal menduga sumber ledakan berasal dari ribuan ton amonium nitrat yang disimpan pada gudang di pelabuhan.

Baca Juga:

Investigasi lantas difokuskan untuk mencari tahu alasan 2.750 ton amonium nitrat dapat tersimpan di salah satu gudang pelabuhan Beirut selama enam tahun lamanya.

Sebagai catatan, amonium nitrat merupakan bahan kimia berdaya ledak tinggi yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk.

Advertisements

Pelabuhan Beirut dan kantor bea cukai disebut memiliki reputasi sebagai instansi korup dan dipegang oleh berbagai faksi politik, termasuk Kelompok militan Syiah, Hizbullah.

Jaksa Agung Libanon Ghassan Oueidat memerintahkan badan keamanan setempat untuk melakukan investigasi terhadap surat-surat terkait penyimpanan material tersebut, termasuk membuat daftar pejabat terkait yang bertanggung jawab pada perawatan, penyimpanan, dan perlindungan gudang.

Al Jazeera melaporkan pada 2014, Shafik Merhi, kepala kantor bea cukai Libanon kala itu, mengirimkan surat kepada seorang hakim terkait barang kimia sitaan dari sebuah kapal yang disimpan di Hangar 12 Pelabuhan Beirut.

Dalam surat tersebut, Merhi mengingatkan soal “bahaya jika material itu disimpan di tempatnya, dan berdampak pada keamanan pegawai (pelabuhan)”. Ia menyarankan agar material itu untuk diekspor maupun dijual ke perusahaan bahan peledak Libanon.

Surat serupa juga dikirimkan setidaknya lima kali pada periode 2015-2017. Belum diketahui apakah surat tersebut direspons.

Pemerintah Libanon telah menetapkan pejabat pelabuhan Kota Beirut sebagai tahanan rumah selama proses investigasi berlangsung.

Korban Tewas 135 Orang
Korban meninggal dalam ledakan dahsyat yang terjadi di pelabuhan Beirut, Libanon, dilaporkan mencapai 135 orang.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (6/8/2020), Kementerian Kesehatan Libanon mencatat ledakan yang berasal dari pelabuhan Beirut itu menyebabkan setidaknya 135 orang tewas dan 5.000 orang luka-luka. Jumlah ini masih bisa bertambah mengingat proses evakuasi masih dilakukan.

Bantuan darurat yang dikirim dari luar negeri berdatangan untuk membantu Libanon yang pada saat yang sama menghadapi krisis ekonomi.

Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyebutkan jumlah kerugian akibat ledakan dahsyat itu ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Dia mengatakan sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Advertisements

Ledakan itu diduga dipicu oleh petasan yang tersulut di gudang pelabuhan Beirut, yang menyimpan 2.750 ton senyawa amonium nitrat. Senyawa kimia itu memiliki daya ledak tinggi dan kerap dipakai untuk bahan baku pembuatan pupuk dan peledak.

Amonium nitrat itu disita dari sebuah kapal berbendera Moldova, MV Rhosus, pada 2013. Kepala Bea Cukai Libanon, Badri Daher, menyatakan sudah enam kali meminta supaya kapal itu dipindahkan atau muatannya dikirim ke lokasi yang lebih aman, karena mudah terbakar dan bisa membahayakan para pekerja di pelabuhan.

Akibat ledakan itu membuat kawah seluas 200 meter di pelabuhan yang digenangi air Laut Mediterania. Bahkan tangki yang menyimpan 85 persen gandum hasil produksi Libanon yang berada di lokasi kejadian hancur.

Proses evakuasi dan penyelidikan masih berlangsung. Sejumlah negara dari kawasan Timur Tengah hingga Amerika Selatan menyatakan duka cita dan mengirim bantuan ke Libanon.

Presiden Libanon, Michel Aoun, menyatakan berjanji akan menggelar penyelidikan terkait ledakan itu secara terbuka. Dia juga menjanjikan akan menghukum pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab.

Sampai saat ini kepolisian setempat telah menetapkan sejumlah pejabat di badan pelabuhan Beirut sebagai tahanan rumah, terkait proses penyelidikan. [***]

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Sutrisno

Advertisements
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News