Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Pemicu Bencana Hidrometeorologi pada 3-9 April

  • Whatsapp
Ilustrasi cuaca ekstrem.
Bagikan Artikel Ini
  • 39
    Dibagikan

JurnalNews – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi sepekan ke depan.

Potensi ekstrem cuaca wilayah Indonesia selama sepekan ini berdasarkan pantauan BMKG pada periode 3-9 April 2021.

Lihat Juga:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau serangkaian kejadian bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang dan angin kencang di beberapa wilayah pada awal April 2021.

“Potensi bencana harus disikapi oleh pemerintah daerah sehingga dampak bahaya dapat dikurangi, dicegah atau bahkan dihindari,” sebut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Raditya Jati yang dikutip laman BNPB

Pada awal April 2021, angin kencang melanda empat kecamatan di Kabupaten Tapanuli, Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 11 rumah rusak berat akibat fenomena cuaca yang terjadi pada Kamis 1 April sekitar pukul 13.00 WIB.

Kemudian banjir di tiga kecamatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Banjar dan Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, terjadi di hari yang sama namun pada waktu yang berbeda.

Selain itu, Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB juga mendapatkan laporan banjir bandang di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, angin kencang di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Banjir di Kabuapten Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, dan banjri di Kabupaten Keerom, Papua.

“Meskipun tidak adanya korban jiwa, sejumlah kejadian ini berdampak pada kehidupan masyarakat setempat,” ujar Raditya Jati.

Berdasarkan siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 3 April 2021, hasil analisis dinamika atmosfer-laut menunjukkan bahwa La Nina masih berlangsung paling tidak hingga Mei 2021, dengan kecenderungan menuju netral.

Selain itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, faktor fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif di sebagian wilayah Indonesia bersamaan dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang dapat berkontribusi pada peningkatan awan hujan.

Berita Terkait

Google News