Wisatawan Ubud Minati Kolaborasi Seni Kaili-Bali

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Pertunjukan kolaborasi Bali-Kaili penari Lagaligo dan penari Internasional Jepang Jasmine Okubo di Agung Rai Museum of Art Ubud Bali, Kamis (4/7/2016) malam. (Foto: Andono Wibisono)

Ubud, Jurnalsulteng.com – Pertunjukan seni musik dan tari hasil kolaborasi etnis Kaili dan Bali di Museum Arma (Agung Rai Museum of Art) di Ubud, Bali, Kamis (4/7/2016) malam, diminati ratusan wisatawan mancanegara.

Untuk menyaksikan pertunjukan itu, para wisatawan tersebut rela antre di pintu masuk hanya untuk mendaftarkan nama mereka.

Baca Juga:

Sebanyak 300 kursi yang disediakan terisi penuh bahkan sebagian pengunjung rela berdiri menyaksikan pertunjukan seni musik dan tari yang digali dari akar tradisi masyarakat Kaili dan Bali tersebut.

Etnis Kaili adalah suku asli yang mendiami lembah Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Advertisements

Ide seni pertunjukan itu digarap sebagai langkah awal kampanye Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) yang akan dihelat di sepanjang Teluk Palu, 24 – 26 September 2016.

Seorang pengunjung dari Australia Paula Gillham mengungkapkan kekagumannya pada pertunjukan tersebut. Ia mengatakan, dirinya sangat senang bisa menyaksikan pertunjukan yang digali dari kekayaan budaya tanah air itu.

Seni pertunjukan yang terbangun dari ritme tabuhan gimba (gendang) dan kakula (alat musik tiup dari bambu) dan kulintang tersebut menceritakan harmonisasi antarsesama manusia, manusia dengan Tuhan dan alam.

Para penonton terutama para wisatawan mancanegara tampak betah menyaksikan pertunjukan yang dibalut dengan nuansa kuning, hitam dan merah tersebut. Warna warni pakaian itu digunakan para pemain musik, penari dan aksesoris pendukung panggung.

Advertisements

Sesekali mereka bertepuk tangan dan mengabadikannya dengan telepon genggam.

Kolaborasi musik etnis Kaili dan Bali itu tercermin dari alat musik yang dimainkan, pakaian yang dikenakan dan bait-bait lagu yang dinyanyikan lebih dominan dari akar tradisi etnis Kaili, sementara etnis Bali lebih hidup pada gerak tarinya.

Jane Chaeen, seorang seniman multitalenta dan instruktur sekaligus pemeran dalam pertunjukan itu mengatakan kolaborasi itu untuk membangun persaudaraan antaretnis yang berbeda.

“Kolaborasi kecil ini kebanyakan berlanjut ke hal-hal yang lebih besar,” katanya.

Pertunjukan itu juga disaksikan Wali Kota Palu Hidayat dan Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said, Ketua DPRD Kota Palu Moh Ikbal Andi Magga, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar Anak Agung Dalem Jagadhita, perwakilan pemerintah Kabupaten Badung dan unsur musyawarah pimpinan daerah Kota Palu lainnya.(***)


Source; Antara

Advertisements
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News