Wisuda Ngebut

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
  • 20
    Shares

Oleh: Joko Intarto
Gara-gara pandemi Covid-19, Universitas Bengkulu harus ngebut wisuda. Dua periode yang dulu berjarak empat bulan akhirnya harus dilaksanakan pada bulan Agustus.

Awal Agustus nanti ada sekali wisuda. Akhir bulan Agustus ada sekali lagi. Dua-duanya diselenggarakan secara online.

Baca Juga:

Dalam penyelenggaraan wisuda kali ini RB Event Organizer yang menjadi leader. Divisi usaha Rakyat Bengkulu Group itu yang bertanggung jawab di lapangan. Jagaters menyiapkan layanan live interaktifnya.

Inilah model bisnis kolaborasi yang sedang kami kembangkan. Setelah menggarap Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta, Jagaters mulai menggarap pasar Sumatera. Dimulai dari Bengkulu.

Advertisements

Rakyat Bengkulu bukan perusahaan asing bagi saya. Dulu, pada tahun 1992, saya pernah membantu redaksinya. Saat masih bernama ‘Semarak’. Koran ini bergabung dengan Jawa Pos Group setelah pisah ranjang dengan Surabaya Post yang menjadi induk semangnya.

Kebetulan saat itu saya sedang meliput kegiatan berburu babi hutan. Almarhum Herman Sarens Sudiro yang mengajak saya sebagai ucapan terima kasih karena membuat liputan khusus tentang peternakan kudanya di Pacet, Pasuruan.

Dari soal kuda itulah saya berkenalan dengan orang kepercayaan Herman Sarens. Orang inilah yang mempertemukan saya dengan istri pengusaha pabrik jam tangan yang dituduh membunuh tokoh serikat buruh pabrik itu, Marsinah.

Saya kemudian bisa membuat wawancara eksklusif yang hanya terbit di Jawa Pos hingga berhari-hari. Itulah satu-satunya wawancara media dengan keluarga tersangka yang bikin repot banyak pihak. Di masa Orde Baru wawancara semacam itu tergolong berisiko tinggi.

Herman Sarens-lah yang kemudian menawari saya kesempatan meliput kegiatan berburu babi hutan ke Bengkulu. Sekalian agar bisa terbebas dari keruwetan baru akibat wawancara dengan istri pengusaha pabrik jam tangan di Sidoarjo itu.

Advertisements

Selama dua minggu berburu, saya ngantor di Rakyat Bengkulu setiap pagi hingga siang. Sore hari masuk ke hutan bersama rombongan pemburu.

Hasil ngumpet selama dua minggu itu melahirkan artikel bersambung yang judulnya masih saya ingat sampai sekarang: Pesta Kematian Rp2,4 Miliar. Sebesar itulah biaya untuk berburu babi selama dua minggu. Saat itu kurs USD 1 = Rp800. Belakangan tulisan ini mendapat pengharagaan dari Menteri Transmigrasi Siswono Yudhohusodo.

Pulang dari Bengkulu saya dihubungi kepala biro Majalah Tempo Surabaya. Ia tertarik dengan keberhasilan saya mewawancarai istri boss pabrik jam tempat Marsinah bekerja dan kedekatan saya dengan berbagai sumber berita yang sulit, termasuk Herman Sarens Sudiro itu.

Singkat kata, Majalah Tempo menawari saya bergabung dengan gaji dan tunjangan dua kali lebih besar dibanding yang saya terima dari Jawa Pos. Permintaan itu terus terang membuat saya bingung.

”Senangkah Anda bekerja di Jawa Pos?” tanya Dahlan Iskan saat menerima konsultasi.

”Senang,” jawab saya.

”Bagi saya, senang lebih penting ketimbang besarnya gaji. Kalau kamu bekerja dengan hati yang senang, karya jurnalistikmu akan luar biasa. Saat itulah, gajimu akan besar sendiri,” kata Dahlan.

Memilih yang menyenangkan hati, saya akhirnya melupakan tawaran Tempo. Apalagi seminggu kemudian saya mendapat hadiah dari Jawa Pos untuk liburan ke Amerika Serikat. Judulnya liburan tapi Pak Dahlan nitip banyak tugas.

Advertisements

Saya harus membuat liputan peresmian hotel Spinx di Las Vegas yang waktu itu menjadi hotel terbesar di dunia. Di hotel itu pula saya meliput pertandingan tinju Sugar Ray Robinson dan bisa berfoto bareng dengan penyanyi kondang Madonna. [***]

Iklan
loading...

Berita Lainnya

Google News